Penjual bunga potong di Pasar Bunga Splendid Kota Malang tengah menata mawar segar di lapaknya. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Penjual bunga potong di Pasar Bunga Splendid Kota Malang tengah menata mawar segar di lapaknya. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Hari Kasih Sayang atau Valentine Day yang diperingati tiap 14 Februari sebelumnya identik dengan "hari raya" bagi para penjual bunga di Pasar Bunga Splendid, Kota Malang. Pasalnya, momentum tersebut sering ditandai dengan pemberian bunga sebagai ungkapan kasih sayang. Sayangnya, tahun ini para pedagang justru curhat sepinya pesanan karangan bunga atau buket. 

Aktivitas di Pasar Bunga Splendid, Kota Malang, hari ini (13/2/2019) atau H-1 Valentine justru tampak lengang. Tak terlihat kesibukan para pegawai toko bunga potong seperti tahun-tahun sebelumnya. Juga tak tampak adanya buket-buket bunga yang siap dibawa pulang pembeli. Kondisi itu terjadi hampir di seluruh lapak-lapak penjual bunga potong. 

Para pedagang menyebut sejumlah faktor membuat permintaan bunga turun drastis. "Karena kan ada imbauan nggak boleh merayakan Valentine, salah satunya itu. Juga karena banyak yang ngasih boneka dan cokelat. Turunnya dibanding tahun-tahun kemarin sampai 50 persen lebih," ujar Mulyadi, pemilik Setiya Florist. 

Tahun ini, lanjut dia, permintaan bunga terbanyak masih dari pengusaha katering dan dekorasi pernikahan. "Sepi, biasanya kalau Valentine kurang satu hari sudah ada anak-anak cari. Tapi ya hari ini kayak gini dari tadi, memprihatinkan. Ibaratnya kalau Valentine itu dulu kan seperti hari raya penjual bunga, kenek dijagakno (momen yang ditunggu penjual) tapi ini sangat sepi," keluh pria 49 tahun itu. 

Menurut pria yang disapa Mul itu, banyak remaja  yang mencari karangan dengan harga ekonomis pada perayaan tahun-tahun yang lalu. "Biasanya kan mulai harga yang murah sekali. Itu Rp 10 ribu satu tangkai dibungkus. Sampai di atasnya, lihat isi mawarnya ada berapa," terangnya. 

Melihat lesunya permintaan pasar, Mul memilih tidak menambah pasokan bunga segar potong dari petani. "Saya ambil cuma dari petani kiriman harian seperti biasanya, nggak berani ambil stok. Kalau dari petani, sudah ramai sendiri kebanyakan dikirim ke luar daerah ke Bali atau Jakarta," tuturnya. Dia menyebut tidak ada kenaikan harga yang signifikan dari petani. 

Mul berharap larangan perayaan Valentine dari sejumlah organisasi masyarakat (ormas) tidak lagi dibuat. Sebab, melihat pembeli tahun-tahun sebelumnya tidak melulu dari anak-anak muda yang pacaran, melainkan juga untuk keluarga, bahkan murid-murid untuk hadiah gurunya.

"Harapannya seperti dulu, antara 50 sampai 100 buket sehari. Karena momen lain, Hari Ibu,  juga nggak terlalu ramai, biasa saja," kata dia.

Hal senada juga disampaikan Racha Anggara, pengelola Sruni Florist. "Valentine nggak bisa dikatakan kayak dulu. Sepi sekali. Hanya ada satu yang pesan. Yang ramai justru pesanan dari dekorasi, mulai awal Februari ini kan musim nikahan," ungkapnya. 

Para pedagang di Pasar Bunga Splendid rata-rata mengambil pasokan mawar dari para petani di Kota Batu. "Karena sepi, kami nggak menyediakan banyak varian mawar. Cuma tiga warga dasar itu. Yang merah, putih dan pink. Kalau tahun-tahun sebelumnya sedia banyak karena kan permintaan juga banyak," pungkasnya.