Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Pelesir Minggu

*dd nana

Minggu menanggalkan kemeja putihnya. Diusapnya peluh yang berjatuhan serupa gerimis malas dari wajah dan tubuhnya. Ada sekilas senyuman, saat Minggu menatap hasil kerjanya hari ini.

Berjualan kebahagian ternyata begitu laris dibandingkan harus meringik-ringik di jalanan, ucap Minggu sambil menghitung untung.

Di luar, malam telah menguasai cahaya.

Minggu pun menjereng air dan menyiapkan kopi. Sialan, rutuknya, gula persediaan ternyata telah habis diboyong para semut. Para semut yang tak pernah sekalipun dia bunuh, walau tak juga Minggu pelihara.

Minggu pun terpaksa menyeduh kopi tanpa gula. Mencoba menikmati kegembiraannya hari ini. Mengingat atas upaya orang-orang untuk bebas dan menanggalkan kedoknya, sehari dalam seminggu.

Mengingat senyum dan tawa lepas dari orang-orang yang bercengkerama tanpa beban di berbagai pusat perkotaan. Saat dirinya harus mengupas keringat setelah berkeliling mengantar mereka.

Tapi ini pelesir bagi Minggu. Memanggul orang-orang yang dikalahkan dalam 6 hari kerja dan merdeka di hari ini. Melepaskan rantai-rantai yang mencekik leher, otak dan hati yang seharusnya dibiarkan bebas.

Minggu masuk dalam ingatan dengan kopi pahit di meja kayu yang dibungkus koran. Di luar malam melegamkan segala yang memiliki cahaya.

Mencari jejak kecilnya di hari tanpa kedok. Tertawa lepas dan tak lagi di rantai aturan dan usia. Berlari, tertawa, berguling-guling di rumput taman kota. Atau sesekali merebahkan lelah di kursi-kursi yang disediakan di setiap area terbuka. Atau juga membaca keras-keras puisi yang dia sukai disembarang tempat.

Atau saat Minggu kasmaran dan begitu gugupnya saat memegang tangan perempuan yang di hujaninya dengan gombalan yang dihafalnya di sebuah majalah tua. Dan merah pipinya saat sang perempuan menamparnya saat bibirnya yang lancang mendaratkan ciuman.

Tapi Minggu hanyalah Minggu. Ingatannya tak ingin berlama-lama memberikannya surga gula-gula. Serupa ciuman yang gagal, Minggu hanya bisa membawanya pada pergumulan tangan dan kelamin yang sendirian. Serupa hasratnya bermain lepas yang hanya bisa Minggu guratkan pada kertas kosong berwarna hampir kecoklatan.

Pelesir Minggu hanyalah bayang-bayang. Sampai akhirnya dia mengawini bayang-bayang dan mendapatkan seupil kepuasaan dunia. Dan orang-orang lebih suka Minggu menjadi bayang-bayang. Dengan harga murah, para pembayar yang duduk ongkang-ongkang kaki, bisa mendapatkan hasil yang diinginkan.

Minggu mengingat sambil menatap kemeja putihnya yang mulai berganti warna. Dirinya di jalanan berteriak-teriak, melempar botol-botol molotov, batu, menyiramkan bensin dan menyulut api. Minggu juga ingat warna merah di kepala dan wajahnya yang ditubruk pentungan dan tinju. Menetes-netes serupa gerimis malas. Hanya untuk sebungkus mie, telor, rokok dan ongkos pulang menuju rumahnya yang malam.

Minggu pun hanya jadi onggokan daging yang semakin mengecil. Jangankan pelesir, untuk bernafas normal menjalani hari pun begitu penatnya.

Akhirnya, pada secangkir kopi Minggu mengadu. Hingga malam memberikannya keajaiban. Mereka menjadi teman mengobrol, walau hanya rasa pahit yang mereka bisa bagi.

"Sesekali belajarnya tersenyum dan menguatkan tulang punggungmu untuk mereka yang senasib," ucap kopi di sebuah malam. Minggu tertegun.

"Pelesir. Jadilah kau ruang untuk pelesir orang-orang yang kalah. Jadilah kau alat cukil kedok-kedok yang terlalu melekat dan dilekatkan pada wajah-wajah itu," cerocos kopi.

Minggu tertegun dan mengingat lagi. Mengais arti arah kopi. Dan, hanya sosok kerbau, kuda, yang melekat di kepalanya.

"Aku jadi kuda atau kerbau?" tanya Minggu memastikan.

"Jadi Minggu yang berjualan kebahagian dalam sehari saja untuk mereka. Jadi Minggu dengan kemeja putih lengan panjang. Agar kau tampak sahaja. Jadi Minggu yang tak risau setelahnya kau akan makan apa."

Minggu menanggalkan kemeja putihnya. Diusapnya peluh yang berjatuhan serupa gerimis malas. Ada sekilas senyuman, walau dia sadar 6 hari ke depan matanya akan kembali buta. Tapi Minggu masih punya kawan bernama kopi. Walau gula kerap diboyong para semut yang tak pernah dipelihara dan dibunuhnya juga.

Di luar, malam telah menguasai cahaya.

*hanya penikmat kopi lokal