Suasana bedah buku kuliner Hindia-Belanda karya Pipit Anggraeni di Coffee Times, Selasa (29/10) malam. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana bedah buku kuliner Hindia-Belanda karya Pipit Anggraeni di Coffee Times, Selasa (29/10) malam. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Hadirnya buku Kuliner Hindia-Belanda 1901-1942 karya Pipit Anggraeni menjadi hal menarik yang dibahas dalam perkulineran Nusantara. Bagaimana tidak. Beragam olahan makanan seperti sayur lodeh, nasi goreng, sate, perkedel, serundeng, kue lapis, sampai onde-onde dibedah tuntas di Coffee Times, kawasan Terminal Kopi Malang di Pasar Terpadu Dinoyo lantai 2, Selasa malam (29/10).

Menghadirkan pembanding dosen Binus Malang Faisal Hilmy Maulida SHum MHum dan Pemimpin Redaksi MalangTIMES.com Heryanto, buku kuliner Hindia-Belanda dinilai menjadi sebuah karya inspirasi sejarah kuliner.

Pipit Anggraeni, penulis sekaligus Jurnalis MalangTIMES.com,  menjelaskan bahwa salah satu bahasan menarik, selain penyajian menu-menu kuliner Nusantara yang sudah terkenal sejak zaman kolonial dan disajikan ala Eropa, adalah menguak kebiasaan juru masak atau koki bumiputera (pribumi).

"Bahkan di era dahulu ada sekolah khusus rumah tangga untuk perempuan bumiputera yang dikenal dengan sebutan huishoudschool. Hingga penyajian ala restuffle, yakni semacam hidangan dengan berbagai menu yang disajikan dengan cara elegan khas budaya Eropa," paparnya.

Adanya buku tersebut mendapat apresiasi dari para pembanding. Namun, juga dikemukakan berbagai kritikan membangun mengenai apa yang dibahas dalam sejarah kuliner.

Seperti yang diungkapkan dosen Binus Malang Faisal Hilmy Maulida. Menurut dia, pengaruh penyajian makanan Nusantara masuk ke budaya Eropa dengam konsep Rijsttafel itu. Salah satunya, berkaitan dengan sajian menu, dia menjelaskan di masa dahulu orang Eropa terbiasa memakan roti pakai garpu dan pisau. Namun, ketika telah bersentuhan dengan khas makanan Nusantara, mereka beramai-ramai mengenal nasi. 

Kemudian, perihal sekolah rumah tangga yang dibahas dalam buku ini, Faisal menganggap suatu hal yang menarik. Dari situ, bisa diketahui kebiasaan wanita Eropa di zamannya yang diberikan sekolah khusus mengenai pengelolaan rumah tangga.

"Artinya, ketika mereka mengenal itu, mereka juga harus menyesuaikan lidah mereka. Olahan-olahan makanan yang ada di sini memengaruhi kuliner di masa Hindia-Belanda itu," ungkapnya.

Sementara, Pemimpin Redaksi MalangTIMES.com Heryanto mengatakan bahasan mengenai kuliner memang sangat menarik. Bayangan dia, bahkan akan tercantum juga bagaimana resep-resep masakan khas Nusantara dikemas di zaman dahulu atau dengan penyajian khas Eropa.

Hal itu yang diharapkan ke depan untuk dijadikan referensi,  dengan mencantumkan resep-resep zaman dahulu, pembaca  seolah bernostalgia dan bisa mengombinasikan jenis-jenis makanan Nusantara dengan resep era sekarang.

"Ini menjadi bahasan-bahasan yang menarik, ketika ada bagian dari perbandingan dulu dan sekarang. Orang-orang akan cenderung lebih nostalgia. Artinya, banyak orang yang ingin kuliner zaman dulu, kemudian dipraktkkkan dengan masa sekarang. Hal itu bisa diterapkan dan itu bisa menjadi khazanah kebudayaan mereka dan bisa menjadi narasi berikutnya," pungkasnya.