Ilustrasi celana cingkrang (Ist)
Ilustrasi celana cingkrang (Ist)

Penilaian terhadap yang di luar kita, lahir dari paparan audio-visual  yang dihujamkan terus menerus. Sampai pada titik tertentu, isi kepala kita pun akan membentuk sebuah sinyal kepada seluruh indera. Penghakiman atas yang lain dan berbeda dengan kita atau kelompok kita.

"Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya" dan “kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja”. Begitulah mungkin kalau sedikit diradikalkanbkalimat di atas dengan memakai ucapan Paul Joseph Goebbels, Menteri Propaganda-nya Nazi pada tahun 1942.

Begitulah, mungkin, sedikit ihwal terkait celana cingkrang yang tak masuk dalam sebuah gaya busana tentunya dewasa ini. Tapi lebih pada sebuah simbol politik atau gerakan tertentu yang kini sedang kembali ramai diperbincangkan dalam masyarakat. Kaum radikal.

Menengok celana cingkrang dari luar, bila kepala kita telah begitu lama terpapar audio visual yang mengarahkan pada suatu bentuk kepentingan tertentu. Akan membuat kita dengan mudah menghakimi tampilan luarnya itu sendiri. Celana cingkrang adalah simbol radikalisme dengan menunggangi agama.

Mungkin, begitulah yang ada di kepala kita. Kepala yang telah dilumpuhkan sedemikian rupa oleh suntikan demi suntikan kepentingan yang ditusukkan terus menerus. Akhirnya, tak ada perlawanan untuk menelisik, bagaimana celana cingkrang di era revolusi industri 4.0 ini masih diidentikkan dengan para kaum radikal.

Isbal

Dari kaca mata empat mazhab fikih, Isbal (berbusana melebihi mata kaki) cukup menarik untuk ditelaah. Sehingga gambaran terkait Isbal akan bisa menjadikan isi kepala kita yang lumpuh atau memang sengaja dilumpuhkan, memiliki ruang dialog terkait celana cingkrang yang menjadi fenomena dalam masyarakat sampai saat ini.

Mengutip penjelasan dari Lembaga Fatwa Dar al-Ifta Mesir, terdapat sejumlah hadis larangan berisbal bagi laki-laki. Misalnya, hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda, ”Busana yang melebihi dua mata kaki maka (pemakainya) di dalam neraka.” 

Tapi, lanjut Dar al-Ifta, larangan berisbal tidaklah mutlak. Dikarenakan ada pembatasan melalui hadis lainnya. Misalnya ini bisa ditemukan dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah yang bercorak Hanafi. Dimana disampaikan bahwa  isbal busana bagi laki-laki selama tidak dimaksudkan untuk kesombongan, hukumnya adalah makruh tanzih. 

Ini senada dengan yang disampaikan oleh  Imam Abu al-Walid al-Baji al-Maliki, dalam kitab al-Muntaqa, sabda Rasul “Barang siapa yang memanjangkan busananya karena sombong”. Sedangkan memanjangkan busana karena memang busananya panjang, atau tidak menemukan baju lain, atau kerena alasan tertentu, maka tidak termasuk isbal yang diperingatkan. 

Mazhab Syafi'i melalui Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Asna al-Mathalib juga  menjelaskan  hal yang sama. Dimana, memanjangkan busana melebihi mata kedua mata kaki karena sombong, hukumnya  haram. Dan jika dilakukan karena selain kesombongan hukumnya adalah makruh.  Pun, Ibnu Taimiyyah dalam kitab Syarh ‘Umdat al-Fiqh menyampaikan hal yang sama.

"Jadi isbal yang dilarang adalah yang mengandung unsur kesombongan, keangkuhan, dan glamoritas," ujar Dar al-Ifta’.

Lantas apa hubungan celana cingkrang dengan radikalisme yang 'seolah-olah' diidentikkan dengan penganut agama Islam?

Bisa jadi seperti yang saya tuliskan di atas itu. Saat para teroris atau kaum radikal beraksi yang ditayangkan di media, baik yang ditangkap hidup-hidup maupun ditembak dan akhirnya mati. Atau mematikan dirinya dengan meledakan bom bunuh diri. Selalu yang tertampilkan dengan busana celana cingkrang. Dan itu yang terus diputar. Bahkan, bagi sebagian kelompok yang distigma radikal pun jadi gaya keseharian.

Apalagi dibubuhi dengan jenggot dan dahi hitam, misalnya. Sempurna sudah mata kita menyipit dikarenakan isi kepalanya telah terpapar lama dengan ciri-ciri teroris atau kaum radikal bersenjatakan agama.

Konon, Muasal Celana Cingkrang

Celana cingkrang, dari berbagai literatur merupakan bagian dari kebudayaan yang lekat kaitannya dengan Rasulullah Muhammad saw. Maka, tentunya saya pribadi tetap menghormati pilihan orang-orang bercelana cingkrang. Walaupun saya bukan pemakai celana cingkrang.

Di masa Nabi, pemakaian busana panjang, berumbai sampai menyentuh tanah, adalah simbol status kekayaan pemakainya. Hanya orang-orang kaya, raja, kaisar, saudagar, yang bisa memakai busana seperti itu. Sedangkan orang miskin tak mungkin memakainya. Di era Nabi, Abu Jahal, sangat suka memakai pakaian seperti itu untuk menunjukkan kesombongannya.

Maka, lahirlah 'dawuh' kanjeng Nabi :"jangan memanjangkan kain untuk kesombongan,".

Maka Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) pernah menyampaikan, "Tapi sekarang kan tidak (berbeda dengan pada zaman Nabi), yang dilihat hanya pada kainnya. Sombong tidak apa-apa asal kainnya di atas mata kaki (cingkrang)," ucapnya seperti dikutip dalam situs nu.or.id tentang celana cingkrang dan kesombongan beragama.

Maka yang ketiga, Imam Ghozali dalam Kitab Ihya Ulumuddin menulis tentang godaan iblis yang disebut talbis. Yakni, godaan yang ditujukan kepada orang-orang yang telah merasa baik beragama, tetapi sebenarnya tidak. Hal itu karena hatinya diliputi sifat sombong.

Pergeseran simbol celana cingkrang ini pula yang akhirnya membuka sebuah fenomena yang terus diperbincangkan dan akhirnya jatuh pada identifikasi para pemakainya. Padahal, busana sebenarnya memiliki sejarahnya sendiri saat tak ditarik ke ranah-ranah privat, seperti menjalankan keyakinannya dalam menjalankan ibadah. 

Banyak contoh terkait itu. Misalnya celana Levi's, Jas dan busana lainnya yang lahir sebagai simbol perlawanan dan bermetamorfosis saat industri menyulapnya sedemikian rupa menjadi gaya dan identitas.

Pertanyaannya, apakah celana cingkrang juga telah lama bermetamorfosis ke arah itu ? Sehingga membentuk sebuah identitas eksklusif sekaligus menawarkan kesan paling dekat dengan cara Nabi berbusana di zamannya. Sedangkan yang tak sepertinya adalah lawan dan musuh yang harus disamakan cara berbusananya. Atau dihalalkan darahnya dengan cara radikal yang malah menjauhkan Islam pada diri dan kelompoknya.

Lantas apa industri yang membuat celana cingkrang menjadi identik dengan para radikal itu ?

Menkopolhukam

Lantas apa hubungannya celana cingkrang dengan Mahfud MD yang resmi hampir sepekan ini menjabat sebagai Menkopolhukam ? Erat jawabnnya.

Tugas putera Madura yang juga NU tapi dipertanyakan ke-NU-an ya oleh sebagian pihak ini jelas memiliki peran besar dalam persoalan radikalisme saat ini. Pemilihan para menteri di ring satu presiden Jokowi jilid II secara lugas menyampaikan, walau tak dilisankan, ada persoalan serius dengan namanya radikalisme di Nusantara ini.

Berbagai data di lembaga negara terkait itupun berbicara dalam angka-angka. Misalnya data di Kementerian Dalam Negeri maupun diberbagai kementerian lainnya, sampai pada data dari TNI AD. 

Tapi, Mahfud MD yang juga diharapkan banyak pihak di dunia media sosial, bisa menjadi kekuatan melebur radikalisme diberbagai tubuh dalam masyarakat. Bahkan menghilangkannya di tanah air Indonesia ini. Sempat juga menyampaikan, bahwa dirinya tak akan menggunakan ciri celana cingkrang sebagai ukuran untuk melihat radikalisme.

Atau dirinya tak akan juga menggunakan ciri orang radikal karena berjenggot dan berdahi hitam, misalnya.

Hal ini tentu cukup menggembirakan, walau sebagian lainnya tetap saja menyampaikan dan sekaligus melakukan bully pada Mahfud MD yang kini aktif menyampaikan kata-kata radikal di berbagai ruangan atau mimbar.

Karena bagi Mahfud, Indonesia dan Islam adalah satu paket yang tak bisa dipisahkan. Maka, persepsi orang Islam memakai celana cingkrang, berjenggot, adalah orang-orang radikal yang ingin merubah NKRI menjadi negara khilafah, tak menjadi pembenar bagi siapapun.

Mahfud menyampaikan, "Orang Islam jika radikal maka hancur negara, tapi karena orang Islam di Indonesia tidak radikal maka negara ini aman. Kebetulannya, yang radikal ada yang Islam, ada yang tidak dan harus dilawan," tegasnya seperti dikutip okezone. com.

Maka, andai anda memilih berbusana celana cingkrang, silahkan. Tak ada larangan untuk memakai hal itu, apalagi dilandasi dengan berbagai kisah di era Nabi. Tapi, bagi yang tak memilih itupun, sah-sah saja dan tak ada yang salah.

Yang salah adalah, bila pilihan Anda terhadap sesuatu dipaksakan dengan segala cara untuk diikuti orang lain. Serta memposisikan yang menolak pilihan Anda sebagai musuh yang patut di perangi. Maka, bagi saya itulah orang-orang radikal. Maka, pemerintah segeralah bergerak untuk melakukan perlawanan bila itu yang terjadi.

*Hanya penikmat kopi lokal