Kasatreskrim Polres Jember AKP Yadwivana Jumbo Qontas saat dikonfirmasi wartawan. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)
Kasatreskrim Polres Jember AKP Yadwivana Jumbo Qontas saat dikonfirmasi wartawan. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

Ironis, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) belum hilang dari ingar-bingarnya, santri di Jember justru menjadi korban pengeroyokan santri lainnya yang masih dalam satu pondok. Insiden itu terjadi di pesantren terbesar di wilayah Kecamatan Sumbersari, Jember.

MNS (14), santri asal Lingkungan Karangtengah, Kelurahan Sumbersari, Jember, menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan sembilan kakak kelasnya. Akibat pengeroyokan ini, korban mengalami luka dalam dan memar di bagian dada.

Mengetahui anaknya mengalami luka dan sakit, keluarga korban melaporkan kejadian ini ke Mapolres Jember. “Kejadiannya sudah lama dan secara berkala. Tapi keluarga korban baru melaporkan Senin kemarin. Dan saat ini korban sudah kami lakukan visum dan pemeriksaan beberapa saksi,” ujar Kasatreskrim Polres Jember AKP Yadwavina Jumbo Qontas, Rabu (30/10/2019) kepada sejumlah wartawan.

Informasi yang berhasil dihimpun, kejadian ini bermula saat MNS menemukan baju yang terjatuh di lokasi jemuran. Oleh MNS, baju tersebut dikumpulkan ke tempat pengumpulan baju bekas yang disediakan pesantren.

Sudah menjadi ketentuan di dalam pesantren, jika baju yang jatuh tidak diambil dalam beberapa hari, maka baju tersebut dikumpulkan di tempat yang sudah disiapkan untuk dilakukan ‘lelang’. Santri lain yang menginginkan baju bisa mengambil dan mencucinya untuk dipakai dengan catatan baju yang ditaruh di tempat ‘lelang’ sudah memenuhi ketentuan waktu yang ditentukan.

“Jadi, korban awalnya menemukan baju di lokasi jemuran pesantren, kemudian ditaruh di tempat yang disebut tempat lelang. Di sana dalam beberapa waktu, jika tidak ada pemilik, santri yang ingin memakai bisa memilikinya. Nah saat korban menggunakan baju itulah, kakak kelasnya menuduh korban telah mencuri, kemudian dilakukan penganiayaan oleh tiga santri senior,” beber Jumbo.

Tidak hanya itu. Selang beberapa hari kemudian, korban didatangi santri lainnya yang masih satu kelompok dengan yang menganiaya sebelumnya. Korban MNS dimintai makanan. Karena tidak diberi, korban dianiaya lagi.

“Yang terakhir korban dianiaya oleh kakak kelasnya yang berjumlah enam orang saat berada di kamar mandi. Saat  itu korban terus sakit dan pihak pengurus pesantren menghubungi keluarganya kalau korban sakit tifus. Setelah dijemput, korban bercerita kalau dianiaya oleh kakak kelasnya. Kemudian keluarganya lapor ke mapolres,” ujarnya.

Sementara, terlapor sampai saat ini masih belum dipanggil.  Pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi. “Ada sembilan yang dilaporkan, tapi belum kami panggil karena kami masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan menunggu hasil visum keluar. Kalau dari kasusnya, pelaku terancam pidana 5 tahun,” pungkas kasatreskrim.