Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (dua dari kanan) saat mengambil nasi empog di Festival Nasi Empog di halaman Balai Kota Among Tani, Selasa (12/11/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (dua dari kanan) saat mengambil nasi empog di Festival Nasi Empog di halaman Balai Kota Among Tani, Selasa (12/11/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

Kota Batu cukup serius menggarap olahan jagung sebagai pengganti nasi menjadi salah satu kuliner tradisional. Kali ini makanan yang dibuat dari campuran jagung itu dikemas dalam Festival Sego Empog yang berlangsung di halaman Balai Kota Among Tani, Selasa (12/11/2019). 

Antusias warga pun sangat tinggi memenuhi event tersebut. Ribuan warga Kota Batu memenuhi karpet merah dan duduk bersama Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Ketua TP PKK Kota Batu Wiby Asri Santoso, dan Kepala Organisasai Perangkat Daerah (OPD).

Tanpa memandang kedudukan mereka pun membaur jadi satu menikmatinasi eompog yang telah disuguhkan. Kali ini even yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangangan Bersama PKK Kota Batu membagikan kurang lebih 5 ribu bungkus nasi.

Nasi itu kemudian dibagikan dan dimakan Bersama di atas karpet merah tersebut. Lauk sego empog yang telah dibuat terdiri dari sego empog, sayur tempe tahu pedas, peyek, mendol, urap-urap, ikan teri, dan sebagainya.

Mereka yang hadir itu pun menikmatinya dengan lahap. Sri Rahmawati warga Kota Batu mengatakan, senang bias menyicipi sego empog gratis itu. “Padahal niatnya hanya main-main saja, tapi dapat sego empog. Lumayan,” kata Sri.

Menurutnya, melalui even ini bisa memahami pengganti nasi bisa menggunakan jagung. “Selama ini saya sendiri masih banyak mengkonsumsi nasi, dengan begini kita tahu bisa diolah apa saja jagung ini,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batu Wiwik Nuryati menambahkan, sejauh ini masyarakat Kota Batu masih bergantung pada padi, lantaran masyarakat masih banyak pertanian padi. “Karena itu melalui even seperti ini kita kenalkan kepada masyarakat pengganti nasi, sebab jagung ini juga bisa diolah menjadi beragam makanan,” ungkap Wiwik.

Selain menggalakkan pengganti nasi, sego empog menjadi makanan tradisional yang seharusnya diangkat menjadi ikon kuliner Kota Batu. “Juga mengangkat nilai kebersamaan antara pemkot bersama warga membaur untuk menjalin silahturahmi, dan ini hal yang langka,” tambahnya.

Dengan demikian ini juga sebagai pengenalan kepada wisatawan. Melihat Kota Batu sebagai kota wisata yang sudah menjadi jujukan wisatawan domestik dan mancanegara. “Ya melalui even ini Kota Batu dikenal juga karena nasi empog,” harap warga Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.