Suasana pertandingan Kejurkot Bulutangkis 2019 di GOR Djagung Rabu (20/11/2019) (Hendra Saputra)
Suasana pertandingan Kejurkot Bulutangkis 2019 di GOR Djagung Rabu (20/11/2019) (Hendra Saputra)

Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Malang saat ini masih memiliki problem untuk mencari bibit atlet yang sangat fokus terhadap prestasi. Hal tersebut karena masih banyak yang bingung, meneruskan akademik atau memupuk prestasi di bidang olahraga.

Bercita-cita menjadi seorang atlet bagi seorang anak sekolah memang masih menjadi suatu ganjalan. Karena, mereka harus bisa menekuni salah satu bidang jika ingin memiliki prestasi.

Kebanyakan anak-anak yang menggeluti dunia olahraga harus mengorbankan sekolahnya, karena jadwal latihan akan lebih banyak ia fokuskan. Begitu juga sebaliknya, jika fokus kepada sekolah tentu olahraga yang digeluti tidak akan maksimal.

Seperti diketahui, saat ini sekolah menggunakan sistem fullday school saat anak dituntut untuk menghadapi mata pelajaran seharian penuh.

Ketua Umum PBSI Kota Malang, Herry Mursid mengatakan bahwa saat ini kebanyakan anak-anak dan orang tua atlet bingung dengan prestasi olahraga atau akademik. "Jadi memang untuk atlet, seperti sering saya sampaikan bahwa dilema sebagai atlet diusia dini ini selalu orangtua terbentur pada dilema antara pendidikan dan profesi sebagai atlet. Karena apapun kalau serius sebagai atlet otomatis akademisnya pasti akan ketinggalan," ujarnya kepada wartawan belum lama ini.

Herry mengungkapkan, bahwa di Kota Malang khususnya saat ini masih belum mempunyai sekolah yang dikhususkan untuk atlet. Terutama yang bisa balance antara akademik dan olahraganya. "Kita belum punya sekolah yang khusus untuk atlet, sehingga itu menjadi bibit-bibit yang ada diusia dini sangat tergantung sekali dengan dukungan orangtua, maka dari itu dukungan orangtua ini menjadi faktor yang sangat penting untuk pembibitan," ungkapnya.

Sementara itu, Herry mengakui bahwa mayoritas klub dibawah naungan PBSI Kota Malang masih menghidupi 'dirinya' secara mandiri. Karenanya, biaya juga menjadi pertimbangan bagi orang tua untuk menerjunkan anaknya ikut dalam olahraga.

"Dilema yang kedua mengenai klub-klub di Kota Malang itu rata-rata klub yang hidup dengan mandiri, dan rata-rata hidup dari iuran atlet-atlet yang ikut klub itu. Itu juga salah satu memaksimalkan bibit atlet ini juga menjadi kurang, karena sebagai orangtua atlet selain harus mengorbankan akademis dia juga harus keluar biaya dikarenakan belum ada klub yang bisa memberi beasiswa, sehingga posisinya ini memang kembali lagi ke dukungan keluarga atlet sangat penting," katanya.

Disisi lain PBSI Kota Malang sendiri menurut Herry Mursid juga memiliki anggaran terbatas. Karenanya dengan rutinnya gelaran Kejurkot ini juga bisa dimanfaatkan untuk membantu klub bulutangkis di 'Bhumi Arema' seperti halnya cock latihan.

"Paling dengan banyak sponsor kita bisa gelar kejuaraan aja istilahnya itu tidak cukup, sehingga bantuan sponsor banyak gelar kejuaraan dan juga sedikit banyak bisa bantu klub-klub cock untuk latihan," pungkasnya.