Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko didampingi istri Elly Estiningtyas Edi Jarwoko saat hadir dalam acara Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Terintegrasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (Pipit/MalangTIMES).
Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko didampingi istri Elly Estiningtyas Edi Jarwoko saat hadir dalam acara Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Terintegrasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (Pipit/MalangTIMES).

Angka kematian ibu melahirkan di Kota Malang turun dengan signifikan dalam kurun satu tahun terakhir. Salah satu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) yakni mengintensifkan program monitoring ibu hamil risiko tinggi. 

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko menyampaikan, penurunan angka kematian ibu dan anak menjadi konsentrasi utama Pemkot Malang. Melalui Dinkes, Pemkot terus berupaya melakukan berbagai kegiatan untuk menekan angka kematian ibu melahirkan.

Dia menguraikan, angka kematian ibu melahirkan sepanjang 2018 mencapai 14 kasus. Sementara hingga pertengahan November 2019, tercatat ada tujuh kasus kematian pada ibu yang melahirkan. 

Artinya, terjadi penurunan jumlah kematian ibu melahirkan dibanding tahun sebelumnya. "Dan kami berharap angka tersebut tak bertambah, karena bagaimana pun juga kematian itu berkaitan dengan takdir yang kuasa," katanya, usai menghadiri Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Terintegrasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang digelar di halaman Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma), Minggu (24/11/2019).

Menurutnya, selama ini Pemkot Malang beserta kader kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Kota Malang telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah kematian ibu melahirkan. Di antaranya seperti melakukan monitoring kepada ibu hamil di masing-masing kelurahan.

Sehingga, kondisi dan kesehatan ibu-ibu hamil dapat terus terpantau dengan baik. Dengan begitu, diharapkan angka kemarin ibu melahirkan dapat terus ditekan. Selain itu, berbagai program yang telah direncanakan pun ia harapkan untuk bisa berjalan sebagaimana perencanaan.

"Sebelumnya kami juga sudah ada lelang kinerja. Di mana salah satu target yang harus dilakukan Dinas Kesehatan adalah berupaya menekan angka kematian ibu melahirkan dan anak," jelas pria yang akrab disapa Bung Edi itu.

Sementara itu, di Jawa Timur sendiri tercatat jika 54 persen kematian ibu terjadi pada masa nifas atau 0 hingga 42 hari setelah masa bersalin. Sementara 25 persen terjadi ketika ibu hamil dan 21 persen ketika bersalin. Sedangkan kematian bayi, 42 persen disebabkan akibat berat badan lahir yang rendah. Sekitar 25 persen dikarenakan asfiksia dan 16 persen akibat kelainan bawaan.