Uji coba AR Batik. (Foto: istimewa)
Uji coba AR Batik. (Foto: istimewa)

Salah satu produk kebanggaan Indonesia yang dikenal di seluruh dunia adalah batik. Mahakarya ini termasuk warisan leluhur yang harus dilestarikan dan diedukasikan kepada generasi penerus.

Untuk membuat selembar batik tradisional, kadamg dibutuhkan waktu pengerjaan yang tidak sebentar. Ada yang minimal dua bulan, bahkan ada yang sampai setahun. Dari total waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tradisional, tahapan membatik adalah yang paling banyak memakan waktu.

Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk memberi detail dari titik hingga garis halus pada motif batik yang rumit. Ada tahapan membuat pola yang berulang dengan menggunakan pensil kemudian ditindas dengan lilin. Belum lagi penggambaran pola batik itu sendiri rawan terjadi kesalahan karena kurang hati-hatinya pengrajin. 

Untuk mengatasi masalah pembuatan motif atau pola batik tersebut, Wahyu Teja, salah seorang mahasiswa program Magister Ilmu Komputer (S2) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB), membuat teknologi yang diberi nama Augmented Reality Batik (AR Batik).

Penelitiannya yang sekaligus dibuat untuk bahan tesis ini dilakukan di bawah bimbingan dosen Filkom UB. Haitu Dr Eng Herman Tolle ST MT dan Dr Eng Ahmad Afif Supianto SSi MKom.

Teja membeberkan bahwa teknologi ini memanfaatkan teknologi augmented reality berbasis marker. "Teknologi ini mampu menampilkan motif batik digital jika dihadapkan pada kain yang telah diberi penanda titik khusus," ucapnya.

Dengan demikian, pembuat batik tidak perlu menggambar motif Batik dengan pensil terlebih dulu pada kain karena motif batik langsung ditampilkan pada permukaan kain oleh aplikasi.

Hal ini, kata Teja, dapat mengurangi waktu dalam tahap pembuatan pola. Sehingga proses produksi batik secara keseluruhan dapat lebih efektif dan efisien.

"Kebanyakan tujuan AR adalah bisa leluasa secara natural berinteraksi dengan objek digital. AR itu teknologi yang mampu memasukkan konten digital ke dunia nyata. Jadi, pengguna itu bisa merasakan konten digital dan dunia nyata sekaligus bersamaan dalam satu waktu dengan panca inderanya," bebernya.

Teknologi temuannya ini telah diujicobakan Teja pada produsen batik, yakni Anjani Batik Gallery yang berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur.

Produsen ini dipilih karena sudah banyak memperoleh penghargaan di bidang batik tulis dan setiap bulan mampu memproduksi lebih dari 200 potong kain batik dengan peminat dari dalam dan luar negeri.

Dari uji coba tersebut, diperoleh hasil bahwa penggunaan AR Batik terbukti mampu mempercepat proses produksi batik tulis. Tercatat, jika menggunakan metode tradisional, maka waktu yang dibutuhkan membuat selembar kain batik mencapai 45,21 menit. "Sedangkan jika menggunakan teknologi AR Batik, waktu yang dibutuhkan hanya 8,93 menit," ungkapnya.

Dengan kata lain, AR Batik mampu menghemat 80,24 persen waktu dalam pembuatan batik jika dibanding menggunakan cara tradisional.