(Dari kiri) Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko saat musyawarah kota di lantai 3 Balai Kota Among Tani, Kamis (28/11/2019).
(Dari kiri) Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko saat musyawarah kota di lantai 3 Balai Kota Among Tani, Kamis (28/11/2019).

Keinginan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Batu untuk memiliki unit tranfusi darah (UTD) harus terpendam dulu. Keinginan itu gagal terealisasi lantaran belum memenuhi syarat untuk didirikannya UTD.

Hal itu menjadi pembahasan dalam Musyawarah Kota (Muskot) PMI Kota Batu di lantai 3 Balai Kota Among Tani, Kamis (28/11/2019). “Untuk saat ini memang angan-angan  punya UTD terpaksa diurungkan. Ada beberapa hal yang belum memenuhi syarat,” kata Ketua PMI Kota Batu Punjul Santoso.

Pria yang juga menjabat wakil wali kota Batu itu menambahkan, beberapa persyaratan yang harus dipenuhi PMI Kota Batu yakni tempat hingga sumber daya manusia (SDM).

 Karena belum dapat diwujudkan, kini PMI Kota Batu fokus pada pembangunan bank darah. “Untuk pembangunan bank darah ini, sudah menyiapkan anggaran sejumlah Rp 2 miliar,” ungkap Punjul.

Meskipun gagal, PMI Kota Batu sudah melakukan audiensi dengan PMI Kabupaten Malang untuk bersinergi agar ke depan bisa meminjam fasilitas yang dibutuhkan, seperti UTD dan SDM, untuk kebutuhan donor darah di Kota Batu.

Nantinya, darah tersebut bisa disimpan sendiri di bank darah. Dengan anggaran Rp 2 miliar itu, bank darah rencananya akan dibangun 2020 mendatang.

Tidak hanya itu. PMI Kota Batu akan menambah armada, yakni satu unit ambulans. Satu ambulans itu  tipe emergency dengan fasilitas lengkap, baik tabung oksigen, kotak P3K, infus, dan tenaga medisnya. “Insya Allah, rencananya akan di-launching bulan Desember depan," tutup Punjul.