Induk White Stork bersama anaknya Kajtiek di Eco Green Park, Jumat (29/11/2019).
Induk White Stork bersama anaknya Kajtiek di Eco Green Park, Jumat (29/11/2019).

White Stork (Ciconia ciconia), satwa kebanggaan masyarakat Polandia ini telah berhasil dikembangbiakkan di Eco Green Park, Kota Batu. Meski memiliki habitat asal dari daerah yang memiliki empat musim, bangau putih dengan corak khas itu berhasil hidup dan berkembang biak di daerah yang hanya memiliki dua musim. 

Bayi White Strok itu, kini diberi nama Kajteik merupakan Bahasa Polandia. Nama itu ternyata sudah dipersiapkan oleh Duta Besar Polandia Beata Stoczynska yang diberikan langsung di Eco Green Park, Jumat (29/11/2019). “Nama ini kalau dalam Bahasa Jawa itu seperti panggilan nduk atau le,” ungkap Operational Manager Eco Green Park Anggun Dwi Cahyono.

Ia menambahkan, White Stork berada di Lembaga Konservasi Eco Green Park sejak tahun 2012. Satwa tersebut telah berhasil berkembang biak secara alami di kandang exhibit sebanyak dua kali. 

“Keberhasilan menetasnya satwa tersebut yang pertama terjadi pada tanggal 12 Oktober 2017 jumlah satu ekor dan yang kedua pada tanggal 21 Agustus 2019 jumlah satu ekor,” imbuhnya.

Tentunya bukan hal mudah untuk mengembangbiakan satwa tersebut. Ada beberapa perawatan khusus yang harus diberikan. Mulai dari nutrisi, suplemen pendukung vitamin, keeper yang siaga serta pengelolaan manajemen konservasi yang terpadu.

Di alam liar, White Stork yang berkembang di Polandia dierami dan dirawat sampai besar oleh kedua induknya (parent rearing). Rata-rata mereka bertelur sebanyak 4 butir dengan masa inkubasi sekitar 33-34 hari. Anakan muda akan keluar dari sarang saat berumur 58-64 hari dan masih berlanjut diberi makan oleh induk selama 2 minggu.

Untuk pengembangbiakan White Stork di Eco Green Park, ada perawatan khusus. Indukan dirawat dalam kandang exhibit terbuka dan bisa langsung dinikmati keindahannya secara langsung oleh pengunjung. Karena lingkungan kandang dibuat secara alami dengan enrichment yang memadai.

“Yakni dengan lantai tanah berumput, pohon pelindung, tanaman semak perdu, material bersarang dari kayu dan ranting kecil, kolam air serta atap berlindung kecil. Pakan yang diberikan berupa aneka jenis ikan,” tambah Anggun.

Berkembangbiaknya White Stork itu, menunjukkan keistimewaan satwa tersebut yang mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan yang memiliki perbedaan ekstrem. Hal tersebut juga sebagai indikator keberhasilan Eco Green Park sesuai dengan fungsinya sebagai lembaga konservasi untuk pengembangbiakan dan penyelamatan satwa. 

“Oleh karena itu, diharapkan akan ada keberlanjutan kerja sama di bidang konservasi satwa White Stork ini antara Eco Green Park (Jawa Timur Park Grup) dengan Pemerintah Polandia. Harapan adanya kerja sama tersebut memungkinkan tidak hanya fokus pada White Stork akan tetapi bisa juga pada satwa jenis lainnya,” harapnya.