Kabid Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang Rahmat Hidayat. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Kabid Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang Rahmat Hidayat. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

 Problematika sampah di Kota Malang hingga kini masih menjadi perhatian khusus. Upaya perbaikan lingkungan juga terus digencarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malamg guna mengurangi produksi sampah yang terus menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang.

Nah, salah satu yang tengah gencar dilakukan yakni pengelolaan sampah melalui program berbasis masyarkat bank sampah yag digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. Melalui kegiatan ini, masyarakat turut terlibat dalam mengolah sampah miliknya sendiri.

Belum lama ini, DLH Kota Malang bahkan menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Malang untuk terlibat dalam bank sampah. Rencananya, program ini bakal merambah ke wilayah RT dan RW se-Kota Malang.

"Kami sudah bertemu Tim Penggerak PKK, mau kerja sama untuk mengembangkan bank sampah di tingkat RT dan RW. Nanti, kader-kader PKK setiap wilayah yang akan membantu men-support  kegiatan ini," ujar Kepala Bidang (Kabid) Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang Rahmat Hidayat.

Rahmat menjelaskan, dengan bank sampah, setiap wilayah di masing-masing RT dan RW diwajibkan memilah sampah. Kemudian pemilahan tersebut akan dikategorikan, yakni untuk dijual sebagai bahan baku daur ulang dan dibuat sebagai pupuk kompos.

"Nanti dari situ akan dikategorikan. Yang masih layak jual nanti dijual. Lalu bisa dipakai untuk produk tertentu dengan kerajinan daur ulang," imbuh Rahmat.

Selain itu, dalam bank sampah ini nanti, telah direncanakan adanya pembelajaran lingkungan terkait pembatasan kantong plastik. Sehingga masyarakat dapat mengubah pemikiran dengan menggunakan kantong belanja non-plastik untuk mengurangi tingkat produksi sampah.

"Menggunakan kantong belanja bagi ibu-ibu rumah tangga saat belanja, intinya pembatasan sampah jangan sampai sampah itu muncul. Jangan sampai memproduksi sampah banyak itu juga kita pikirkan," ucap Rahmat.

Nantinya, dengan melibatkan setiap RT dan RW di wilayah Kota Malang, maka pengurangan sampah dalam jakstrada (kebijakan strategi daerah) dapat terealisasikan. Apalagi, target tahun ini, produksi sampah diharapkan dapat berkurang hingga 21 persen.

"Karena targetnya 2019 ini harus 21 persen terkurangi dari sumber. Kalau tahun lalu baru 18 persen. Berarti ada penambahan 3 persen. Nanti akan diketahui di Januari awal 2020 apakah kita berhasil mencapai target atau belum sehingga harus ada pengurangan sampah," tandasnya.