Suasana depan rumah Mukidi dan Bambang, yang terlihat tengah mempersiapkan pembacaan doa untuk Mukidi dan Bambang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Suasana depan rumah Mukidi dan Bambang, yang terlihat tengah mempersiapkan pembacaan doa untuk Mukidi dan Bambang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Kabut kesedihan nampak masih menyelimuti keluarga Mukidi dan Bambang, bapak dan anak yang menjadi korban tabrak lari saat akan mengambil sampah di Jalan Mayjend Sungkono (29/11/2019).

Hal itu tergambar jelas melihat raut wajah keluarga korban. Terutama di wajah Tuti, istri Mukidi sekaligus ibu dari Bambang. Perempuan yang sudah berumur 50 tahun lebih itu, tampak muram saat MalangTIMES menyambangi kediaman korban, di Jalan Mayjend Sungkono, Gang Teratai RT 3 RW 1, Buring, Kedungkandang, Kota Malang.

Sehari setelah kejadian, tepatnya pada tanggal 30 Desember 2019, sekitar pukul 16.30 WIB usai hujan deras, MalangTIMES menuju kediaman dari Mukidi dan Bambang.  Selama perjalanan menuju kediaman korban, MalangTIMES sempat mengalami sedikit kesulitan mencari alamat rumah duka korban.

Setelah empat kali bertanya-tanya kepada warga sekitar, akhirnya MalangTIMES diarahkan masuk ke sebuah gang yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari jalan utama. Usai mengikuti arahan warga, MalangTIMES kemudian tiba di sebuah gang kecil yang di depannya terdapat tulisan bernama Gang teratai. Di depan gang tersebut nampak masih terpasang bendera putih tanda berduka.

Di situ MalangTIMES kemudian bergegas masuk menuju gang yang terlihat sepi tanpa aktivitas. Namun setelah berjalan sekitar 20 meteran, MalangTiMES menjumpai sebuah lorong yang terdapat deretan rumah cukup ramai. Tampak di depan rumah banyak terparkir sepeda motor.

Selain jajaran sepeda motor, terlihat pula sebuah keramaian di salah satu rumah dengan sebuah tenda terpal biru terpasang meneduhi depan rumah. Rumah itu merupakan kediaman Mukidi.

Di beranda depan rumah semi permanen tersebut, nampak para kerabat dan tetangga sekitar yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa terhadap keluarga maupun istri Mukidi. Namun, sang istri Tuti tidak tampak di ruang tamu untuk menemui kerabat yang datang. 

Setelah meminta izin, keluarga Mukidi memanggilkan Tuti yang kemudian datang ke ruang tamu. Saat menemui MalangTIMES, nampak jelas wajah sang istri yang telah berusia lanjut tersebut begitu lesu, dengan tatapan yang kadang seperti terlihat kosong. 

Dari raut wajah dan gestur tubuh yang terlihat tak bersemangat, begitu menggambarkan rasa kehilangan mendalam terhadap sosok Mukidi yang dikenal sangat sayang terhadap keluarga.

Dengan suara sedikit lesu dan pelan, Tuti mulai menceritakan  gambaran keseharian Mukidi yang bersahaja dan begitu tanggung jawab terhadap keluarga. Sepeninggal Mukidi, ia selalu terkenang setiap hari pagi atau sore selalu meminum kopi bersama dengan canda tawa termasuk juga dengan sang anak

"Ya selalu ingat saat bersama, tiap pagi sore minum kopi bersama. Pas mau berangkat juga selalu pamitan sama saya. Kalau manggil saya ibu e arek-arek (ibunya anak-anak)," jelasnya dengan raut wajah yang nampak masih belum percaya dengan kejadian yang menimpanya.

Sebelum kejadian nahas itu, Tuti mengaku tak mendapat firasat aneh jika ia akan kehilangan dua orang yang dicintainya. Saat itu, semua berjalan seperti biasanya. Tak ada hal-hal atau pesan terakhir dari almarhum yang terkesan akan pergi meninggalkannya.

"Nggak ada pesan apa-apa, juga nggak ada firasat apa-apa. Biasa saja, ga pamitan kerja gitu. Saya taunya kecelakaan dari ponakan saya," jelasnya

Pujianto, kakak dari Bambang mengatakan, jika sang ayah dan adiknya adalah orang yang benar-benar bertanggung jawab dengan keluarganya. Mukidi juga merupakan orang yang sangat saya terhadap anak-anaknya.

"Bapak orangnya pekerja keras, kelima anaknya bisa dijaga sampai besar semua. Dulu bapak memang bekas pegawai tidak tetap dinas kebersihan. Tapi setelah nggak di situ, bapak ambil sampah di SMK Y sama di PT," ungkapnya

Sementara itu, Pujianto juga sempat bercerita singkat mengenai sang adik. Sang adik di matanya juga merupakan orang yang bertanggung jawab dan berbakti kepada orang tua. Setiap pagi, Bambang membantu sang ayah mengambil sampah tanpa pernah mengeluh.

"Ya suka bantu, pergaulannya wajar, memang anaknya agak pemalu. Anaknya sopan nggak pernah mbentak. Sebelum kejadian juga nggak ada firasat aneh," ungkapnya

Sepeninggal Mukidi dan Bambang, Pujianto juga meminta agar ada pertanggungjawaban dari keluarga pelaku. Sebab, permasalahan ekonomi berada di depan mata akan menghampiri pihak kelurga yang ditinggal. Mukidi dan Bambang merupakan tulang punggung yang menghidupi keluarga.

"Ya saya minta pertanggungjawaban. Orang tua saya kan tulang punggung keluarga. Terus adik saya ini yang masih kecil juga masih sekolah, nasibnya gimana kalau enggak ada pertanggungjawaban. Kan kasihan Ibu,  Mas, itu sudah tua masa mau kerja. Kalau saya pribadi juga sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah, ya mungkin hanya bisa membantu seperlunya," jelasnya

Ia juga menyampaikan, keluarga dari pihak pelaku telah mendatangi rumahnya. Saat itu, masih belum terdapat pembicaraan mengenai masalah pertanggungjawaban. Pihak keluarga pelaku saat itu masih meminta maaf  serta turut berbelasungkawa.

"Kesini Pak RH, istri dan pamannya. Belum ke arah pertanggungjawaban, masih berbelasungkawa masih silaturahmi," paparnya.

Mengenai keberlanjutan kasusnya di ranah hukum, pihaknya menegaskan akan tetap berlanjut. Meskipun secara pribadi, telah memaafkan, namun pihaknya tetap menginginkan proses hukum tetap berlanjut.

"Proses hukum terus berlanjut, pihak keluarga serahkan kepada pihak kepolisian. Proses keadilan tetap berlanjut," pungkasnya