Pembiasaan peduli lingkungan pada siswa menjadi point penting sekolah Adiwiyata, seperti yang dibentuk di SMPN 1 Wajak yang siap jadi sekolah Adiwiyata Mandiri (dok SMPN 1 Wajak)
Pembiasaan peduli lingkungan pada siswa menjadi point penting sekolah Adiwiyata, seperti yang dibentuk di SMPN 1 Wajak yang siap jadi sekolah Adiwiyata Mandiri (dok SMPN 1 Wajak)

Mewujudkan sekolah Adiwiyata, membutuhkan perjuangan dan waktu yang panjang. Tak terkecuali  bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Malang, terutama dalam melahirkan kepedulian dan kesadaran para siswa dan guru terhadap lingkungan.

Proses panjang dan berkelanjutan mewujudkan hal itu dibenarkan oleh Kepala SMPN 1 Wajak, Abdul Rozaq. Sekolah tersebut, pada 2019 ini masuk dalam daftar calon sekolah Adiwiyata Nasional.

"Butuh waktu dan perjuangan panjang. Setidaknya 2 sampai 3 tahun untuk mewujudkan dan membudayakan sekolah dengan wawasan lingkungan ini," kata Abdul, setelah menerima kunjungan tim asesor calon Sekolah Adiwiyata Mandiri Nasional, beberapa hari lalu.

Waktu dan perjuangan panjang itu bukan hanya pada proses pembentukan atau kelengkapan infrastruktur sekolah saja. Melainkan, yang lebih berat adalah mengajak seluruh siswa dan guru memiliki kesadaran dan kepedulian atas lingkungan di sekolahan.

Pasalnya, kepedulian itu akan memunculkan berbagai inovasi lingkungan yang terbarukan dari para siswa sekolah. "Ini yang terus kita perjuangkan dan memang berat. Harus ada pembudayaan inovasi yang terbarukan yang terbangun pada anak-anak didik,” ujarnya.

Abdul melanjutkan, pembudayaan inovasi ini pula yang membuat sebuah sekolah layak diganjar sebagai Sekolah Adiwiyata. "Alhamdulillah untuk di sekolah kita sudah lahir dua inovasi lingkungan terbarukan. Yaitu alat pemotong rumput sederhana dari modifikasi dinamo dan penyulingan daun sereh (serai) atau serenisasi menjadi jenis minuman alami menyehatkan," urainya.

Sekolah Adiwiyata telah menjadi salah satu fokus kerja di kementerian. Tak hanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saja tapi juga Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pun secara langsung terjun dalam mewujudkan sekolah Adiwiyata. Bahkan, KLH secara spesifik menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 53 Tahun 2019.

Di tingkat daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang pun tak hanya diam. Dinas di bawah komando Rachmat Hardijono ini juga aktif melakukan berbagai pendampingan ke sekolah-sekolah untuk mempercepat terwujudnya Sekolah Adiwiyata secara merata.

Hasilnya, tim asesor calon Sekolah Adiwiyata Mandiri Nasional pun terjun langsung di tahun 2019 ini di tiga sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Malang. Yakni, di SMPN 1 Wajak, SMPN 1 Dampit, dan  SMPN 2 Turen.

Geliat ini tentunya cukup positif bagi lembaga sekolahan di Kabupaten Malang. Apalagi tim asesor pun memberikan pernyataannya dalam kesempatan refleksi setelah usai verifikasi lapangan yang terbilang memuaskan. 

Cahyo Dwi Nugrahanto, anggota tim asesor, mengatakan harapannya ke SMPN 1 Wajak bisa menjadi trendsetter yang bisa ditiru dan menjadi inspirasi dalam hal inovasi ramah lingkungan terbarukan bagi sekolah lainnya.

Beberapa catatan juga disampaikan oleh Cahyo yang datang bersama Jarwadi, Ketua Tim Asesor Sekolah Adiwiyata. "Ada setidaknya empat hal penting yang harus dipertahankan sekolah Adiwiyata. Yakni pembiasaan dan keteladanan, selain tentunya kepemimpinan dan ketokohan peduli lingkungan dalam kesinambungan gerakan adiwiyata," ujar Cahyo.

Pembiasaan dan keteladanan serta ketokohan dan kesinambungan, menjadi vital untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Sehingga, Sekolah Adiwiyata bukan hanya sekedar stempel saja bagi sekolahan. Tapi, mampu melahirkan berbagai aksi kepedulian berwawasan lingkungan di sekolah pada anak didik.

"Di SMPN 1 Wajak, misalnya, sudah ada inovasi terbarukan yang semoga jadi trendsetter dan contoh bagi sekolah lainnya. Inovasi ini perlu dibiasakan dan dikawal sehingga terus berlanjut. Serta akan melahirkan inovasi lingkungan hidup lainnya," lanjut Cahyo.

Sistem dan potensi juga menjadi hal awal yang harus dibentuk dan dibangun terlebih dulu untuk mewujudkan sekolah Adiwiyata. Khususnya pada para siswa yang akan menjadi motor penggerak lingkungan hidup pada nantinya. Karena, kata Jarwadi, tujuan utama program Adiwiyata adalah pembentukan watak, sikap dan karakter peduli lingkungan. 

"Jadi sistem dan potensi ini yang harus dibentuk dan didampingi para pengajar dulu di sekolah ke siswa. Sehingga gerakan Adiwiyata akan jadi paradigma dan mindset baru yang lebih luas. Ini juga untuk kesinambungan gerakan aksi lingkungan yang tak terganggu bila ada perubahan pimpinan atau kepala sekolah," urai pria yang juga bertugas di Balitbang Kemendikbud RI ini.

Berbagai hal itu, tentunya tak bisa serupa sulapan. Membangun sistem dan potensi untuk sebuah keberlanjutan program, perlu perjuangan dan waktu lama.