Foto ilustrasi minyak atsiri. (istimewa)
Foto ilustrasi minyak atsiri. (istimewa)

Minyak atsiri atau yang dikenal juga dengan minyak esensial identik dengan aroma-aromanya yang khas.

Indonesia dikenal sebagai biodiversitas minyak atsiri dunia, baik dari rempah, mikroganggang, ganggang, herbal, tanaman budidaya, tanaman berkayu dan non kayu.

Selain sebagai bahan pembuat produk kosmetik, minyak atsiri seringkali digunakan untuk aroma terapi karena kemampuannya memberikan efek tenang.

Namun tidak hanya untuk kecantikan dan aroma terapi, minyak atsiri ternyata juga berkhasiat untuk mengatasi sejumlah gangguan kesehatan.

Profesor Bidang Ilmu Kimia Organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Drs Warsito MS menyampaikan, minyak atsiri sebagai zat alami yang diekstrak dari tanaman aromatik memiliki efek biologis.

"Seperti aktivitas anti-oksidan dan anti-inflamasi, sehingga minyak ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Minyak atsiri juga mampu meningkatan keseimbangan lipid, fungsi hati, fungsi endotel, meningkatkan relaksasi vaskular dan menghambat perkembangan diabetes,” bebernya saat ditemui di Ruang Senat Gedung Rektorat UB, Selasa (3/12/2019).

Selain itu, minyak atsiri juga mengandung senyawa mayor dengan struktur kimia unik. Yaitu memiliki lebih dari satu pusat reaksi (gugus fungsional) yang dapat direkayasa menjadi berbagai senyawa turunannya yang berkhasiat obat.

"Komponen mayor minyak atsiri memiliki potensi besar sebagai bahan dasar obat. Metil salisilat (dari minyak gandapura) sebagai bahan dasar sintesis obat anti inflamasi dan analgesik. Eugenol (dari minyak cengkeh) untuk bahan dasar sintesis obat anti leishmanial. Sitronelal (dari minyak sereh/minyak jeruk purut) sebagai bahan dasar obat anti virus, anti depresan, anti bakteri dan anti oksidan. Limonen (dari minyak kulit jeruk manis) untuk bahan dasar sintesis obat anti kanker dan anti tumor," paparnya.

Indonesia sendiri dikenal sebagai biodiversitas minyak atsiri dunia. Baik dari rempah, mikroganggang, ganggang, herbal, tanaman budidaya, tanaman berkayu dan non kayu.

"Untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri berkualitas tinggi, perlu diperluas pemanfaatannya baik sebagai bahan baku maupun komponen tunggal bahan sintesis obat baru berbasis komponen mayor minyak atsiri dengan proses modern yang efektif dan efisien," tandasnya.

Terlebih lagi, meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif menuntut pemerintah untuk menyediakan obat secara memadai, kualitas dan kuantitasnya.