Prof Luchman Hakim SSi MAgr Sc PhD (kanan). (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Prof Luchman Hakim SSi MAgr Sc PhD (kanan). (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Guru besar bidang ilmu manajemen lingkungan dan pariwisata dari FMIPA Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Luchman Hakim SSi MAgr Sc PhD menyoroti wisata tematik yang kini kian menjamur di Indonesia. Wisata tematik yang bermunculan itu, dinilai kurang memperhatikan aspek lingkungan.

Ia menyatakan, pengembangan pariwisata dalam industri wisata alam tidak seharusnya mengabaikan aspek lingkungan.

"Perlu perbaikan sudut pandang sejak perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata dengan meletakkan dasar keilmuan ekologi dan biologi konservasi," ucapnya saat konferensi pers pengukuhan profesor di Gedung Rektorat UB, Selasa (3/12/2019).

Ia menilai, pengembangan wisata lemah pada aspek lingkungan. Sehingga, kelompok sadar wisata (pokdarwis) hanya melakukan copy paste ide dan fokus kepada cara mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. "Contohnya saja, rumah yang dicat warna-warni. Itu hanya akan menjadi produk wisata sesaat," tegasnya

"Setelah wisatawan berbondong-bondong ke sana dan melejit, maka akan bergeser lagi ke objek wisata lain yang sedang ngehits," ucapnya.

Tak dipungkiri, wisatawan muda atau milenial lebih senang berwisata untuk berfoto selfie. Sehingga, pengelola fokus pada menciptakan hal-hal untuk menarik minat mereka. Contohnya lagi, yakni batu besar di Sungai Amprong dicat karena "menarik" untuk selfie.

"Dampaknya hanya viral. Tidak memikirkan bagaimana serangga akan tersesat. Jika tersesat, siapa yang menyerbuki bunga. Dan jika tidak berbunga, mana bisa berbuah," paparnya.

Satu lagi, yakni Kampung Wisata Temenggungan di Banyuwangi yang juga malah mengecat bangunan bersejarah.

"Di sana itu banyak bangunan peninggalan Belanda. Malah dicat mural saat ada kegiatan. Ada Mickey Mouse, Donald Duck. Padahal pagarnya dicat putih saja sudah bagus," katanya.

Dia menegaskan, hal seperti itu perlu diluruskan. Sebelum membangun pariwisata perlu ditemukan jati dirinya dulu. Terutama keotentikannya untuk menjadi tempat wisata. Sehingga, akan terjaga kelangsungan wisatanya.

Luchman menilai, sumber daya alam memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan pariwisata nasional. Untuk itu ia mengharapkan, pengembangan pariwisata alam ke depan tidak ngawur lagi. Ia mengatakan, destinasi wisata alam adalah sebuah entitas ekosistem.

"Orientasi pendapatan ekonomi saja tidak cukup untuk menjamin daya saing dan keberlanjutan destinasi," tegasnya.

Ia menilai pengelolaan destinasi wisata berbasis dasar keilmuan ekologi dan biologi konservasi sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan destinasi wisata.

“Berbagai perubahan dan perbaikan dari sisi ekonomi, sosial, dan pendidikan memberikan peran besar sebagai faktor pendorong orang melakukan kegiatan rekreasi ke tempat-tempat alami,” pungkas nya.