Sekretaris Dinkes Kota Malang Sumarjono (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Sekretaris Dinkes Kota Malang Sumarjono (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Meski penderita HIV/AIDS di Kota Malang masih  yang tertinggi kedua se-Jawa Timur,  hal itu belum menjadikan kondisi pasien tersebut terjaring dengan maksimal. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang dinilai takut dan enggan untuk menunjukkan penyakit atau memeriksakan diri ke layanan kesehatan di Kota Malang.

Karena itu, upaya untuk menyadarkan akan pentingnya pemeriksaan diri tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat mendatangi pusat layanan kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang juga jemput bola untuk melakukan pemeriksaan secara suka rela.

Salah satunya dengan rutin berkeliling ke tempat-tempat hiburan. Antara lain panti pijat, tempat karaoke, dan  diskotik karena  memiliki potensi adanya pasien pengidap HIV. Program itu juga sebagai salah satu cara dalam mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

"HIV itu kan seperti manusia normal ya. Ia beraktiviitas biasa saja. Sementara kami harus menemukan untuk bisa ditindaklanjuti. Nah, salah satunya, kami mencari pasien di tempat-tempat tertentu yang berpotensi mengidap HIV," ujar Sekretaris Dinkes Kota Malang Sumarjono.

Ketika dalam pemeriksaan ditemukan pasien yang mengidap HIV, maka petugas kesehatan Dinkes Kota Malang melakukan pemahaman untuk pengobatan. Di antaranya, rutin memeriksakan diri ke layanan kesehatan hingga mengonsumsi obat anti-retroviral (ARV).

Penahaman ini dilakukan supaya pasien yang terjangkit virus ini tidak sampai menularkan kepada anak, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya. "Karena jika itu dilakukan dengan rutin, maka umur pengidap HIV juga bisa lebih lama. Dengan meminum obat secara teratur, kemudian supaya tidak menularkan ke orang lain, kami menganjurkan untuk mereka selalu menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seks," pungkasnya.