Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Ilustrasi. (Foto: istimewa)

Menurunya angka penderita HIV (human immunodeficiency virus)/AIDS di Kota Batu hingga 18 kasus di tahun ini tentunya dengan beragam upaya yang dilakukan.

Pada tahun ini khusus menurunkan kasus ini Pemkot Batu menggelontorkan Rp 693 juta. Anggaran itu digunakan dalam beragam bentuk kegiatan.

Mulai sosialisasi hingga pendampingan terhadap penderita. “Kita sudah lakukan sosilisasi di rumah sakit, LSM, Pemkot Batu, puskesmas, dan sebagainya. Meskipun tidak ada pengawasan khusus bagi penderita karena hanya akan membuat mereka tertekan,” kata Kepala Bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batu Yuni Astuti.

Ia menambahkan Pemkot Batu juga melakukan kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kota Batu. Adanya kerja sama ini bertujuan mendekatkan diri kepada penderita.

Hal itu dilakukan salah satu cara agar bisa melakukan penanganan lanjutan kepada penderita.  “Orang kalau sudah terkena HIV ini cenderung menutup diri, jadi ketika jumlah penderita meningkat itu hal baik. Jadi bisa mendeteksi secara pasti jumlah penderitanya berapa,” ungkapnya.

Selain itu Pemkot Batu telah melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah SMP dan SMA. Panti asuhan dan hotel pun juga menjadi sasaran adanya sosialisasi. 

Lalu untuk menekan angka penyebaran virus HIV/AIDS ini dengan melakukan pemeriksaan rutin di tempat hiburan malam. Tidak hanya tempat hiburan malam saja, upaya Dinkes dalam menekan penyebaran penyakit juga menyasar pada pengecekan ibu hamil di Kota Batu.

“Lalu juga melakukan pengecekan ibu hamil melalui screaning HIV, Hepatitis dan Sipilis secara gratis di Puskesmas yang ada di Kota Batu,” tutup Yuni.

Sedang hingga tahun 2019 ini tercatat ada 18 orang yang terjangkit. Angka tersebut turun jika dibanding tahun sebelumnya. Ya di tahun  2018 silam tercatat ada 42 kasus yang terjangkit satu orang meninggal dunia, jumlah tahun itu terhitung cukup tinggi dibanding dua tahun sebelumnya. Di tahun 2016 yang terjangkit ada 16 orang. Dan di tahun 2017 naik dua kasus, yakni 18 orang yang terjangkit.