Profesor bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran UB, Prof Dr Dra Sri Winarsih MSi Ap. (Pegang mic) (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Profesor bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran UB, Prof Dr Dra Sri Winarsih MSi Ap. (Pegang mic) (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Demam tifoid atau tipes adalah salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Bahkan, angka kematian akibat tipes juga tercatat cukup tinggi.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi yang ditularkan melalui makanan dan minuman.

Fenomena tipes di Indonesia ini diangkat oleh Profesor bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), Prof Dr Dra Sri Winarsih MSi Ap sebagai bahan orasinya untuk pengukuhan profesor, Rabu (18/12/2018).

Judul orasi ilmiahnya adalah Vaksinasi dan Imunomodulasi untuk Mengatasi Penyakit Demam Tifoid.

"Demam tifoid menyerang semua umur, terutama anak-anak. Obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit infeksi disebut antibiotika," ucapnya.

Dijelaskan oleh Winarsih, secara alamiah, untuk mempertahankan siklus hidupnya, bakteri memiliki kemampuan mengembangkan mekanisme untuk melawan obat yang mengganggu dirinya (resistensi).

"Saat ini, telah terjadi banyak kasus resistensi bakteri terhadap antibiotika di Indonesia maupun di dunia, sehingga menyulitkan para dokter dalam menyelesaikan masalah penyakit infeksi," timpalnya.

Menurutnya, cara efektif untuk mengatasi masalah resistensi adalah dengan cara vaksinasi dan imunomodulasi.

"Vaksinasi maupun imunomodulasi lebih menguntungkan bagi masyarakat, karena individu tidak menjadi sakit, di samping bahan yang digunakan tidak langsung kontak dengan sel bakteri sehingga tidak menginduksi resistensi bakteri," jelasnya.

Kedua cara ini mengandalkan respon kekebalan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta pada diri manusia.

"Vaksinasi bersifat mencegah penyakit secara spesifik, sehingga vaksin dibuat dari bagian sel bakteri penyebab penyakit tersebut; sedangkan imunomodulasi bersifat tidak spesifik dengan menggunakan senyawa kimia (disebut imunomodulator) yang dapat mengatur respon kekebalan tubuh untuk melawan semua jenis penyakit infeksi," bebernya.

Untuk anak-anak, vaksin lewat mulut bukan injeksi akan akan lebih disukai anak. Sebab vaksin injeksi menimbulkan rasa takut.