Ilustrasi riset dan inovasi teknologi (Ist)
Ilustrasi riset dan inovasi teknologi (Ist)

Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam melimpah. Potensi besar itu tentunya menjadi modal besar membangun kesejahteraan dan kemandirian masyarakat dan bangsa di satu sisi. Tapi, di sisi lain sumber daya yang begitu kaya itu menjadi "kutukan" bagi pertumbuhan dan kemajuan riset dan inovasi teknologi di Indonesia.

Riset dan inovasi teknologi Indonesia terpuruk, misalnya, bila dibandingkan dengan Korea Selatan (Korsel). Korsel telah menyalip kemajuan teknologi Indonesia saat ini. Padahal, tahun 1950-an, Indonesia dan Korsel sama-sama merupakan negara kategori miskin. Tapi, kini berbagai industri hidup dan berjaya di Korsel berkat riset dan inovasinya yang tumbuh dengan baik.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Telematika Penyiaran dan Ristek Ilham Habibie, beberapa waktu lalu.  "Teknologi Korsel telah menyalip kita karena mereka sadar bahwa riset dan inovasi harus dituangkan ke industri. Jadi, industri hidup dari situ," ucapnya dalam acara Business Innovation Gathering (BIG) 2019 di LIPI.

Beberapa faktor yang membuat Korsel mampu bersaing dengan Israel dalam riset dan inovasi teknologi yang jadi produk, salah satunya, tidak adanya pilihan bagi negara yang dipimpin Moon Jae-In itu seperti Indonesia yang kaya sumber daya alam. "Korsel atau Jepang tak punya pilihan untuk mengembangkan negaranya melalui sumber daya alamnya yang miskin. Mau tak mau mereka harus mengandalkan nilai tambah yang dibuatnya sendiri," ujar Ilham.

Faktor inilah yang membuat Indonesia terkesan "terlena" dengan sumber daya alamnya yang melimpah. Hal ini menurut Ilham menjadi kutukan sendiri terkait riset dan inovasi teknologi Indonesia yang terhambat dikarenakan statusnya sebagai negara yang memiliki sumber daya alam melimpah. "Kita ada kutukan negara kaya dengan sumber daya alam atau curse of natural resouces rich country," ucapnya.

Dia mencontohkan, banyak pengusaha di Indonesia yang punya kemampuan modal untuk melakukan pendanaan dalam riset dan inovasi teknologi sampai menjadi produk. "Tetapi, pengusaha ini lebih memilih untuk berinvestasi di sumber daya alam seperti pertambangan dan perkebunan," imbuh Ilham.

Faktor lainnya adalah keberpihakan pemerintah dalam anggaran untuk riset dan inovasi teknologi Indonesia yang terbilang minim. Anggaran itu baru mencapai 0,35 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bandingkan dengan anggaran Korsel yang mencapai 4,62 persen dari PDB-nya untuk penelitian dan pengembangan teknologi.

Ilham juga menyoroti  dukungan penggunaan produk lokal oleh warganya sendiri yang luar biasa di Korsel. Contoh kecilnya terkait produk mobil yang diproduksinya mendapat dukungan luar biasa warganya dengan cara membeli dan mempergunakannya.

Dalam kesempatan yang sana, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro  menyampaikan bahwa ada lembah kematian yang menyebabkan riset tak bisa menciptakan produk inovasi di Indonesia. Lembah kematian ini berada adalah tahap dari purwarupa (prototipe) produk menuju industrialisasi hingga komersialisasi. 

"Dibutuhkan sinergi antara akademisi, pebisnis, pemerintah dan masyarakat guna meningkatkan kapasitas inovasi industri nasional serta hilirisasi dan publikasi riset," ungkapnya.

Sinergi itu juga sangat penting dilakukan antara pemerintah dan pihak swasta dalam pengembangan riset dan inovasi teknologi. Pasalnya, sampai saat ini pemerintah hanya mampu menggelontorkan anggaran 0,35 persen dari PDB dan teelihat berjalan sendiri tanpa adanya dukungan swasta.

Hal ini pula yang disoroti Bambang sehingga membuat riset dan inovasi yang menjelma produk di Indonesia terlihat terbenam dibandingkan dengan negara lainnya. Di Korsel dan Jepang, pihak swasta menyumbang anggaran mencapai 70 persen dari total anggaran riset. Di Thailand, pihak swasta juga menyumbangkan dana sebesar 70 persen dari total dana riset.

"Ini ironi yang harus segera diselesaikan bila kita ingin memperkuat sumber pendanaan riset and development dan inovasi di Indonesia," tandas Bambang.