Screenshot twitter
Screenshot twitter

Media sosial kembali menggegerkan publik. Kabar terbaru, sebuah akun di twitter dengan gamblang menyebut jika ada salah satu aktivis Malang Corruption Watch (MCW) telah melakukan kasus pelecehan seksual. 

Cuitan itu pun telah menyebar di berbagai kalangan dan menjadi perbincangan hangat hingga hari ini.

"Trigger warning sek: RAPE 

Aktivis MCW ono sing merkosa dan jare MCW iku ga melanggar kode etik jd ga ada sanksi dan sebaiknya diselesaikan secara personal antara pelaku ambek korban. Trus saiki kancaku seng mengadvokasi korban arep dituntut nggawe UU ITE hash aktivis J****K," cuit @sesenggukkan, Kamis (26/12/2019).

Dalam cuitan berikutnya, @sesenggukkan juga mengunggah sebuah pernyataan sikap bersama yang menuntut agar ada sanksi dan pemecatan terhadap pelaku kekerasan seksual. 

Dijelaskan pula jika korban kekerasan seksual itu ada dua, berinisial X dan Y.

Selain kasus kekerasan tersebut, mencuat kabar jika terjadi upaya penekanan terhadap pihak pendamping kedua korban yang membuat laporan. 

Aksi dukungan terhadap penyelesaian kasus ini pun terus mengalir dan banyak menuai pro dan kontra hingga hari ini.

Mengenai kabar tersebut, MalangTIMES mencoba mencari tahu pendamping kedua korban dalam kasus tersebut. 

Setelah berhasil dihubungi, salah satu pendamping, Dina menyampaikan jika kabar yang menyebar di media sosial tersebut benar adanya. Dia menyampaikan korban ada dua, yaitu X dan Y.

Namun dia masih enggan dimintai keterangan lebih lanjut. 

"Nanti ya kak kami kabari lagi," jawabnya ketika dimintai keterangan lebih mendetail berkaian dengan kronologi sebenarnya atas kasus yang tengah ramai diperbincangkan publik tersebut.

Sementara itu, Malang Corruption Watch(MCW) melelalui keterangan tertulisnya menyatakan sikap atas kasus yang tengah hangat diperbincangkan tersebut. 

Dalam surat pernyataan sikap yang ditandatangani Koordinator Badan Pekerja MCW itu, tercatat ada enam poin yang disampaikan.

Dalam poin kedua disampaikan jika MCW sedang melakukan proses investigasi internal terkait kasus tersebut dan sedang mendalami kasus yang sedang terjadi dengan hati-hati dan sebaik-baiknya.

Selanjutnya dalam poin ketiga disebutkan bahwa MCW menghormati segala upaya yang dilakukan pihak-pihak yang mengatasnamakan pendamping. 

Namun hingga saat ini belum mendapatkan informasi yang valid dan memadai dari pihak yang kompeten untuk memberikan informasi yang sebenarnya. 

Sehingga masih terus mengupayakan bertemu dengan pendamping maupun korban.

MCW juga menjelaskan saat ini masih berusaha melakukan pendekatan dan upaya klarifikasi langsung kepada masing-masing pihak terkait untuk memperjelas posisi kasus tersebut. 

Apakah kasus tersebut benar seperti yang dituduhkan atau bukan. 

Karena MCW sementara ini menilai beberapa informasi yang beredar masih terjadi ketidaksesuaian antara keterangan yang satu dengan keterangan lainnya.

Sebelumnya, kronologi kasus pelecehan seksual yang melibatkan salah satu aktivis MCW dengan dua korban berbeda itu ramai diperbincangkan di beberapa grup pesan singkat WhatsApp.

Disampaikan jika salah satu korban yaitu X merupakan mashasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Malang yang tengah mencari data terkait kasus korupsi di Malang.

Sementara korban kedua merupakan aktivis pers mahasiswa di salah satu perguruan tinggi.

Kejadian pelecehan seksual itu juga dijelaskan terjadi di lokasi yang berbeda, yaitu pantai hingga kamar hotel di Kota Batu. 

Namun kabar tersebut hingga hari ini masih simpangsiur. 

MalangTIMES terus mencari kejelasan lebih mendetail berkaitan dengan kabar tersebut.