Screenshoot unggahan @kepoball.
Screenshoot unggahan @kepoball.

Baru-baru ini sebuah unggahan dari Instagram cukup membuat viral. Ceritanya tentang Jasmine Sefia Waynie, salah satu pelajar SMPN 2 Kota Batu, yang disebut mengalami diskriminasi oleh sekolah. 

Jasmine merupakan pemain Tmnas Sepak Bola Putri Indonesia. Dia pemain termuda saat berlaga di Piala AFF U-16.

Dalam unggahan singkat, diberi keterangan bahwa Jasmine didiskrminasi oleh pihak sekolah. Sejak diunggah, foto itu kini sudah mendapatkan 28 ribu like. 

“Jasmine Sefia Waynie, merupakan pemain Timnas termuda di piala AFF U 16 membela Timnas putri dan didiskrminasi oleh pihak sekolah.  Pihak sekolah tidak memberikan raport dan mengkosongi semua nilai sekolahnya. Ketika di konfirmasi alasan kepala sekolah tidak memberikan raport adalah yang bersangkutan tidak membawa nama sekolah,” tulis unggahan @kepoball. “Lah padahal membela negara loh ini malahan,” imbuhnya, Jumat (3/1/2020). 

Hal ini langsung direspons oleh Dinas Pendidikan Kota Batu dengan menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Dinas Pendidikan menegaskan faktanya tidak sesuai dengan unggahan yang diposting.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Eny Rachyuningsih mengatakan, Jasmine selama satu semester nyaris tidak masuk. “Masuk hanya waktu ujian tengah semester sama ujian akhir semester. Namanya komponen nilai itu kan ada yang dari tugas, ulangan harian, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester,” kata dia.

Menurur Eny, sebelum raport itu keluar, dewan guru  bingung Jasmine mau diberi nilai apa. Akhirnya dipanggillah orang tuanya bersama Jasmine. Maksudnya, diberi tahu untuk mengganti tugas agar dapat nilai.

Sayangnya, saat diberi kesempatan dan guru Jasmine memberikan deadline tugas, tugas itu tidak dikerjakan dan dikumpulkan. Alhasil gurunya pun bingung untuk memberikan penilaian.

“Akhirnya bingung, diberi nilai seadanya tapi tetap dikomunikasikan sampai nanti. Ini tadi sudah saya laporkan ke Bu Wali. Senin akan dipanggil lagi untuk tetap buat tugas supaya nilainya bisa diisi,” ucap mantan kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja ini. 

“Sekarang kalau bilang aturan normalnya, anak tidak masuk itu toleransi diberi nilai 10 persen. Dan dalam kasus ini, Jasmine diberi kesempatan,” tutup Eny.