Dua Turis Belanda saat berkeliling bersama Kepala UPT PPU Takroni Akbar (paling kanan). (UPT PPU for MalangTIMES)
Dua Turis Belanda saat berkeliling bersama Kepala UPT PPU Takroni Akbar (paling kanan). (UPT PPU for MalangTIMES)

Nama dan cita rasa kopi tulang, kopi yang diproduksi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pemakaman Umum (PPU) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, ternyata tidak hanya menggaung di Malang dan sekitarnya. Turis mancanegara pun sudah banyak yang tahu dan menyukai kopi tulang.

Terbukti, telah banyak turis mancanegara, mulai dari Jerman hinggga Belanda, yang mencoba dan mengakui cita rasa kopi tulang. Bagi mereka, kopi yang terbuat dari 100 persen kopi murni pilihan itu memang memiliki cita rasa yang khas.

Kemarin, misalnya, di Kantor UPT PPU tampak terlihat dua orang turis asal asal Negeri Kincir Angin Belanda. Keduanya mengunjungi UPT PPU untuk melihat  kopi tulang yang ditanam di areal makam.

Selain itu, dua turis yang bernama Yannick (21) dan  Jelle (20), asal Columborg, Belanda, itu mencoba seduhan kopi tulang di  UPT PPU. Usai menikmati kopi tulang, dua remaja tersebut mengaku kopi tersebut mempunyai cita rasa yang enak. Hal itu diungkapkan melalui guide yang menjadi translater turis tersebut.

Bukan hanya menikmati seduhan kopi tulang. Saat akan meninggalkan Kantor UPT PPU, mereka juga memborong kopi tulang untuk dibawa ke negaranya sebagai oleh-oleh yang menarik.

Kepala UPT PPU Kota Malang Takroni Akbar menjelaskan,  sebelum-sebelumnya, memang sudah banyak turis asing yang tertarik untuk memborong kopi tulang begitu mengetahui cita rasanya yang khas.

"Dulu ada dari Jerman beberapa orang. Ya mereka senang dengan kopi tulang. Akhirnya pulang bawa kopi tulang untuk oleh-oleh. Selain itu, dari Belanda sebelumnya juga ada. Sama, borong kopi tulang. Nah kalau kali ini ada dua orang lagi dari Belanda. Ya tertarik juga," beber Takroni.

Sebelumnya dua turis tersebut juga tertarik melihat suasana asri dari TPU Nasrani Sukun. Mereka juga sempat melihat tanaman kopi tulang yang buahnya sudah matang hingga mencicipi rasa kopi matang yang masih belum diolah.

"Ke depan, kami akan terus berupaya untuk bagaimana berinovasi, membuat sesuatu yang bermanfaat lagi. Termasuk kopi tulang, kami akan terus berusaha untuk semakin memantapkan cita rasa kopi tersebut. Namun tentunya kembali lagi, tanpa meninggalkan tugas utama kami sebagai pelayan terhadap masyarakat dalam hal pemakaman," pungkas Takroni.