Suasana persidangan sesaat setelah pembacaan putusan sela berakhir
Suasana persidangan sesaat setelah pembacaan putusan sela berakhir

”Pengajuan eksepsi (nota keberatan) ditolak,” begitu kiranya yang diucapkan Majelis Hakim Nunik Defiary saat memimpin persidangan kali ketiga, yang dijalani oleh pelaku pembunuh begal berinisial ZA, Jumat (17/1/2020).

Dalam persidangan yang berlangsung di PN (Pengadilan Negeri) Kepanjen ini, agendanya adalah penyampaian putusan sela. Setelah mempertimbangkan beberapa aspek, sidang yang dibuka pada pukul 09.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 10.00 WIB tersebut, akhirnya membuat Hakim tegas menyatakan jika proses persidangan harus tetap dilanjutkan.

”Sidang lanjutan rencananya bakal digelar pada Senin (20/1/2020). Agendanya pemeriksaan keterangan para saksi,” kata salah satu peserta dalam persidangan tertutup tersebut, saat menjawab pertanyaan MalangTIMES.com terkait jalannya sidang yang berlangsung pada Jumat (17/1/2020).

Setelah majelis hakim mengetuk palu tanda persidangan putusan sela berakhir. Seluruh peserta sidang mulai dari terdakwa ZA, dan kelima penasehat hukumnya yakni Bakti Riza Hidayat, Novi Zulfikar, Lukman Chakim, Moch. Asni Fitrian, Afrizal Mukti Wibowo serta beberapa peserta sidang dan majelis hakim yang terlibat nampak keluar dari ruang persidangan anak PN Kepanjen.

Terdakwa ZA yang saat itu mengenakan seragam pramuka, nampak murung dan memilih irit bicara setelah mengetahui majelis hakim menolak eksepsi yang diajukan kelima kuasa hukumnya. Bahkan ZA yang saat itu didampingi keluarganya, termasuk ayah tirinya, Sudarto, memilih untuk duduk di ruang tunggu PN Kepanjen setelah persidangan ketiga yang dijalaninya berakhir.

Wajar saja, pengajuan eksepsi yang ditolak hakim membuat salah satu pelajar SMA Negeri di wilayah Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang tersebut, terancam bakal menjalani kurungan penjara seumur hidup. ”Meski tidak enak, tapi harus tetap saya sampaikan. Iya,” tegas Koordinator Kuasa Hukum ZA, Bakti Riza Hidayat, saat ditanya MalangTIMES.com terkait konsekwensi dakwaan yang disematkan kepada ZA setelah pengajuan eksepsi ditolak oleh hakim, Jumat (17/1/2020).

Seperti yang sudah diberitakan, pada sidang perdana yang berlangsung Selasa (14/1/2020). Kristriawan selaku JPU (Jaksa Penuntut Umum), menyampaikan empat dakwaan terhadap pelaku pembunuh begal tersebut.

Keempat dakwaan itu meliputi pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal 7 tahun, pasal  338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara, dan pasal 2 ayat 1 Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951.

Perlu diketahui, ZA diamankan anggota Polres Malang sehari setelah seorang pelaku begal yang bernama Misnan alias Grandong, warga Dusun Penjalinan, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi ditemukan tewas.

Pada 10 September 2019 lalu, remaja yang masih berusia 17 tahun itu dijemput polisi saat yang bersangkutan berada di kediamannya yang berlokasi di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Di hadapan penyidik, ZA mengaku terpaksa membunuh Misnan menggunakan pisau yang tersimpan di dalam jok sepeda motornya. Alasannya, dia merasa terancam setelah Misnan dan ketiga kawanannya menjadikan ZA sebagai sasaran pembegalan.

Dalam insiden yang terjadi pada 8 Sepetember 2019 tengah malam tersebut, Misnan tidak hanya merampas barang milik ZA. Selain meminta sepeda motor dan HP, pelaku pembegalan tersebut juga meminta (maaf) kehormatan teman wanita ZA yang saat itu diboncengnya.

Terus didesak, pelajar kelas XII SMA itu akhirnya terpaksa melakukan perlawanan. Yakni dengan cara mengambil pisau yang ada di dalam jok motornya, yang kemudian menusukkan ke arah dada pelaku begal. Pisau yang dianggap untuk membela diri tersebut, sudah diakui pihak sekolah ZA jika kenyataannya digunakan untuk praktik membuat stik es krim.

Kasusnya terus berlanjut, hingga akhirnya berkas perkara yang ditangani penyidik Polres Malang dilimpahkan ke Kejari (Kejaksaan Negeri) Kepanjen. Kasus yang sudah masuk ke meja hijau itu, akhirnya disidangkan perdana dan berlangsung secara tertutup pada Selasa (14/1/2020).

Dalam sidang perdana itu, ZA didakwa empat pasal. Salah satunya tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup. Kuasa hukum ZA sempat mengajukan eksepsi pada sidang kedua, Rabu (15/1/2020). Namun, dalam sidang putusan sela yang berlangsung pada Jumat (17/1/2020) Majelis Hakim menolak nota keberatan tersebut.

”Tadi disampaikan dalam persidangan jika hakim masih akan mempertimbangkan dakwaan yang disampaikan Jaksa. Nantinya keputusan akan diambil setelah seluruh materi dan berkas perkara maupun keterangan saksi sudah diproses di meja persidangan,” terang Bakti.

Menanggapi keputusan tersebut, rombongan kuasa hukum ZA bergegas mengatur strategi guna memenangkan persidangan. Selain mengupayakan agar hakim mengambil keputusan sesuai pasal 49 dan 50 KUHP. Yakni tentang pembenaran dan pemaaf. Pihak kuasa hukum ZA juga menyiapkan beberapa saksi yang hendak didatangkan dalam persidangan lanjutan, yang rencananya diagendakan pada Senin (20/1/2020) mendatang.

”Dalam sidang pemeriksaan para saksi itu, akan ada 4 orang saksi yang kami datangkan. Rencananya selain pihak sekolah (Guru ZA), beberapa warga disekitar lokasi kejadian, dan saksi ahli juga akan kami hadirkan,” ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun MalangTIMES.com, beberapa saksi yang hendak dihadirkan tersebut, salah satunya adalah guru ZA yang membenarkan jika pisau yang digunakan membunuh adalah untuk keperluan praktik sekolah.

Sedangkan dua orang saksi di antaranya merupakan warga di sekitar lokasi kejadian saat ZA dihadang begal, serta seorang warga yang mengaku pernah dijadikan korban pembegalan. Dimana pelakunya diduga adalah Misnan dan kawan-kawan. Sisanya, pihak saksi ahli dari salah satu dosen di Fakultas Hukum UB (Universitas Brawijaya). ”Masih kami bahas, nanti lebih jelasnya siapa saja saksi yang kami libatkan akan didatangkan waktu persidangan Senin (20/1/2020),” tutup Bakti.