Racikan kopi tanpa gula khas Emosi Kopi Luk Songo. (Foto: Anang Basso / Tulungagung TIMES)
Racikan kopi tanpa gula khas Emosi Kopi Luk Songo. (Foto: Anang Basso / Tulungagung TIMES)

Mengisi akhir pekan dengan gowes alias bersepeda bisa jadi pilihan. Bukan hanya raga yang makin sehat, tetapi jiwa tambah segar dengan menikmati sajian pemandangan alam yang dilalui. 

Bersepeda santai tentu tidak lengkap jika tidak disertai jelajah kuliner. Salah satunya yakni nyruput kopi dan sarapan pagi untuk menambah energi.

Bagi yang hobby ngonthel pagi, terutama yang suka naik ke wilayah luk songo Pucanglaban sekarang bisa menikmati tujuh titik warung kopi yang menyebar di hampir tiap tikungan.

Tepat tahun baru 1 Januari 2020 lalu, di lok kedua dari sembilan lok atau dari bawah ke atas ada soft opening cafe baru bertema Cycling Cafe.

"Warung ini baru buka, tapi Alhamdulillah sudah banyak pelanggan yang datang dari berbagai komunitas sepeda," kata owner Emosi Kopi, Yan Cristanto (30).

Beralamat di Desa Pucanglaban RT 1 RW 5, lanjut Yan, dirinya mendirikan Emosi Kopi lantaran saat membuka usaha ini mengalami kondisi labil dan kebingungan.

"Sebelumnya saya merantau di Surabaya, kemudian saya bingung dan akhirnya mencoba mendirikan usaha warung kopi dengan tema se-alami mungkin," papar bapak dua anak ini, Minggu (19/01) pagi.

Yan pun mencari lokasi di lok sembilan yang kemudian diberi tenda ukuran 5 x 5 meter di rest area milik Perhutani. Emosi Kopi pun mengambil tema Pulang Bawa Senang yang menurut Yan dirinya ingin orang yang mampir pulang bisa senang.

Untuk menu kopi, Emosi Kopi menyediakan Kopi Jawa dengan racikan sendiri yang punya ciri khas berbeda dengan warung lain di sepanjang luk songo. 

"Saya racik sendiri, tidak neko-neko hanya krimer dan seduhan kopi Jawa tanpa gula," jelas Muhammad Budiono alias Boneng (28) pria yang asli Pasuruan dan merantau ke Tulungagung ini.

Boneng sendiri merupakan teman kuliah Yan dan keduanya kini bekerja sama untuk mengembangkan Emosi Kopi yang buka sejak pagi hari hingga sore jelang maghrib.

Menurutnya, sajian kopi di Emosi Kopi diambil dari inspirasi saat ngopi bersama pengacara kondang Hotman Paris dua tahun silam.

"Saya terinspirasi dari dua, saya menikmati sekali langsung dari lokasi ngopi saat itu," tambahnya.

Jika umumnya kopi lain di racik sesuai pas takaran, Boneng justru bangga meracik kopi pakai cara manual sesuai emosinya.

"Kadang pas kadang kurang pas itu bagi saya sangat manusiawi dan luar biasa. Justru dengan pas atau kurang pas ini jadi awal komunikasi dengan pelanggan yang mampir," jelasnya.

Jika racikan yang disajikan pas, maka pelanggan memberikan pujian dengan ekspresi senang. Sebaliknya, jika racikan kurang pas maka butuh masukan.

"Itu berarti emosi (mood) saya kurang baik, makanya racikan tidak pas. Saat pelanggan mengatakan bahwa kurang pas, maka saya harus sadar dan berusaha meracik dengan pas," papar Boneng.

Dengan tungku dan api kayu, Boneng tampak happy meracik kopi tiap pesanan pelanggan. Untuk menu makanannya, Emosi Kopi menyediakan beberapa menu makanan yang khas untuk para bikers.

Menu yang ada seperti Ubi rebus, gorengan, utri atau nogosari dan mie instan.