Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Malang Cahyaning Indriasari (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Malang Cahyaning Indriasari (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Dinilai potensial, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bakal dibidik BPJS Ketenagakerjaan.  Itu karena, selain jumlah pekerja UMKM di Kota Malang tercatat mendominasi, selama ini sektor UMKM juga masih jarang tersentuh. Jumlah kepesertaannya pun terbilang masih sedikit.

Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Malang Cahyaning Indriasari menyampaikan, jumlah kepesertaan dari sektor UMKM ditarget naik 30 persen dibandingkan 2019. Dia pun optimistis mampu mencapai target tersebut melalui beberapa strategi yang diterapkan.

"Kami optimistis bisa meraih target tersebut karena jumlah pekerja dari sektor UMKM di Kota Malang  cukup mendominasi dan belum banyak disentuh," kata dia.

Perempuan berhijab itu menyampaikan, jumlah pekerja sektor UMKM di Kota Malang sejauh ini belum didata secara lebih rinci. Sehingga, secara bertahap setiap pelaku UMKM akan disasar untuk mendapatkan sosialisasi. Terutama terkait pentingnya mendapatkan jaminan kecelakaan kerja. 

Apalagi, para pelaku usaha juga termasuk sebagai tenaga kerja.  Namun selama ini pelaku UMKM berpendapat jika kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan hanya pada perusahaan besar. Selain itu, tak sedikit yang masih susah membedakan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. "Itu sebabnya, sektor informal menjadi salah satu konsentrasi sepanjang 2020," terang dia.

Lebih jauh Cahyaning menyampaikan, total perusahaan yang aktif menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan saat ini adalah 6.666 perusahaan atau sekitar 10 persen dari total perusahaan yang ada di Malang Raya. Jika ditotal, ada 162.574 orang peserta yang ter-cover program BPJS Ketenagakerjaan dari total perusahaan aktif tersebut.

Sementara untuk peserta bukan penerima upah atau kepesertaan mandiri ada 22.761 orang. Selanjutnya untuk peserta konstruksi mencapai 33.479 orang. Angka kepesertaan itu secara keseluruhan mengalami peningkatan antara tujuh hingga 10 persen dibandingkan 2018.