Modus mengaku sebagai KPK masih saja terus terjadi di berbagai desa. (Ist)
Modus mengaku sebagai KPK masih saja terus terjadi di berbagai desa. (Ist)

Modus pemerasan dengan menyaru sebagai tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali terjadi. Lagi-lagi para perangkat pemerintah desa menjadi korban tindakan tak bertanggung jawab itu.

Para kepala desa (kades) kerap menjadi sasaran empuk oleh para oknum yang mengaku dari KPK. Dengan ancaman adanya penyalahgunaan pengelolaan anggaran, mereka dengan mudah meraup puluhan juta rupiah dari para kades yang juga ketakutan.

Peristiwa itu kini terjadi di Wenwaru, Moa, Maluku Barat Daya (MBD). Ada empat oknum wartawan mengaku sebagai tim KPK perwakilan Maluku bergerilya di wilayah perdesaan. 

Dengan melengkapi diri dengan tanda pengenal dan surat tugas pimpinan KPK pusat yang dicetak sendiri, mereka berhasil memeras beberapa kades. Aksi tersebut membuat para pelaku mendulang uang dari hasil pemerasan sebesar Rp 39 juta.

Kepala Bidang Humas Polda Maluku Kombes Pol Mohamad Roem Ohoirat mengatakan, keempat oknum wartawan yang menyamar sebagai KPK sudah dicokok dan diamankan bersama barang bukti.

"Sudah diamankan bersama barang bukti uang di Polres MBD," kata Ohoirat. Dia juga menyebutkan nama-nama para pelaku pemerasan, yaitu Abraham Sahetapy alias Ampi (53), Onisimus Robibawala alias Oni (27), Yance Frans alias Yance (47), dan Septian Dion Irwanto alias Dion (24). 

Para oknum wartawan yang menyamar sebagai tim KPK, dengan mudah menakuti para kades atas pengelolaan dana desanya. Mereka pun dengan menyakinkan menginterogasi para kades di wilayah tersebut terkait beberapa proyek yang dilakukan oleh desa. Ujung-ujungnya, mereka mengancam akan memenjarakan para kades yang didatanginya.

"Ini temuan, mau tidak mau bapak Elias Tenggawna (Kades Wenwaru, Moa) bisa masuk penjara," ujar Ohoirat meniru ucapan pelaku kepada Elias yang pasrah memberikan uang sebesar Rp 8 juta atas permintaan para oknum wartawan agar tak dipenjara.

Berhasil meraup uang jutaan rupiah, mereka pun bergerilya ke desa lainnya dan kembali jurus ampuh menyaru sebagai KPK. Kades Kaiwatu, Tounwawan, Wakarleli dan kades Moon, di wilayah yang sama menjadi korban mereka.

Tak hanya di luar Pulau Jawa, modus pemerasan dengan mengatasnamakan KPK juga jadi catatan khusus di Kabupaten Malang, Jatim. Baik yang dilakukan oknum wartawan maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerilya di wilayah perdesaan.

Modus yang sama tapi selalu efektif itu yang membuat para oknum itu terus ada. Tentunya dengan berbagai modifikasi modus dengan benang merah yang sama, yaitu memperkenalkan diri dari KPK. 

Terbaru adalah dengan 'berjualan' kegiatan ke pemerintah desa dengan mencatut nama KPK sebagai mitranya. Sebagian lain mengaku mitra Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemen Desa), mengaku dari Inspektorat Daerah maupun Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim.

Modus ini mulai ramai dan menyebar melalui group WhatsApp, seperti kasus undangan rapat koordinasi untuk ketua BUMDesa dan Kades yang langsung ditanggapi oleh akun Kemendesa sebagai kabar hoax.