Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso, dari beberapa penuturan, pernah tinggal di Kabupaten Malang dengan nama Joko Santoso. (Ist)
Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso, dari beberapa penuturan, pernah tinggal di Kabupaten Malang dengan nama Joko Santoso. (Ist)

Sebelum Keraton Agung Sejagat, Purworejo, Jawa Tengah (Jateng), ramai diperbincangkan dan membuat raja dan ratu-nya dicokok kepolisian, aktivitas mendirikan kerajaan di era revolusi industri 4.0 ini pernah dijalankan di Kabupaten Malang.

Hal itu terkuak dari adanya pencarian silsilah Kerajaan Majapahit di wilayah Singosari yang merupakan lokasi berdirinya kerajaan besar dan menurunkan raja-raja Jawa.

Aktivitas itu dalam upaya mendirikan kembali kerajaan-kerajaan Jawa yang berangkat dari sejarah berdirinya Singhasari. Maka, tak heran, orang-orang yang mengaku raja seperti Keraton Agung Sejagat, yaitu Toto Santoso, disebut pernah berdomisili lama di Kabupaten Malang.

Dari berbagai informasi yang diterima, Toto -yang kini harus mempertanggungjawabkan tingkahnya sebagai raja di hadapan hukum- pernah tinggal lama di Dusun Meduran, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Bernama asli Joko Santoso, sang raja yang jadi pesakitan ini merupakan sosok asli dari Kabupaten Malang.

"Setahu saya nama aslinya Joko Santoso. Teman ngaji saya dulu. Benar pernah tinggal lama di Wonokerto, bahkan pernah menikah dengan warga Gondanglegi juga," ungkap Kepala Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Tirmidi Kuswanto.

Tirmidi yakin bahwa Toto yang jadi raja Keraton Agung Sejagat di Purworejo adalah sosok yang lama berdomisili di wilayahnya. Toto merupakan teman lamanya waktu berada di Desa Wonokerto.

"Saya yakin dengan gaya bicara dan suaranya saat di tivi waktu itu. Walau entah bagaimana ceritanya bisa berganti nama dan domisili," ujarnya yang juga memperlihatkan foto Joko saat di Wonokerto tahun 2008 silam.

Dari penuturannya juga disebutkan, Joko merupakan cucu dari salah satu ulama desa dan memiliki ilmu agama yang cukup dibandingkan masyarakat pada umumnya. Selain itu, Joko -atau Toto yang lebih dikenal namanya kini-merupakan anak tunggal dari pasangan almarhum Paiman dan Hamami. 

"Kaget saja saat ramai ada Keraton Agung Sejagat dan rajanya sangat familiar dengan saya. Saya yakin itu Joko yang sejak pernikahannya kandas dengan warga Gondanglegi seperti hilang ditelan bumi," tandas Tirmidi.

Pernyataan Tirmidi terlengkapi dengan adanya keterangan keberadaan Joko atau Toto yang beralamat di Jalan Mangga Dua VIII RT 012/RW 005, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Namun,  tak ada lagi lokasi rumah di wilayah yang masuk di bantaran rel kereta api itu karena kebakaran tahun 2016 lalu.

Joko atau Totok mengontrak di wilayah itu. Tahun 2015 lalu, menurut Ketua RT 012 RW 005 Abdul Manaf, Toto minta pengantar untuk ganti kartu keluarga. "Ngakunya dari Wonosobo, belum menikah saat itu. Tapi setahun kemudian dia pindah," ucapnya.

Melihat jejak dan pernyataan itulah, diduga Toto-lah  lelaki paro baya yang datang ke kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang guna mendirikan Kerajaan Majapahit dengan cara mencari asal usul untuk menguatkan silsilah antara kerajaan yang akan didirikan dengan kejayaan Kerajaan Singhasari. Dimungkinkan adanya pertalian bahwa gerakan yang melahirkan Keraton Agung Sejagat oleh Toto atau Joko juga memiliki pengikut di bumi Arema ini. Itu berdasarkan pernyataan lelaki paro baya yang mengatakan bahwa Kerajaan Majapahit yang didirikan sudah memiliki raja di Purworejo.