Suasana rumah yang diinformasikan jadi kantor CV Wahyu Sarana, pemenang lelang pembangunan jembatan ambruk di Kecamatan Dau (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana rumah yang diinformasikan jadi kantor CV Wahyu Sarana, pemenang lelang pembangunan jembatan ambruk di Kecamatan Dau (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Ambruknya jembatan di Dusun Krajan, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kamis (30/1) lalu rupanya memunculkan beragam pertanyaan. Meski tak ada korban jiwa, kejadian yang membuat kerugian hingga Rp 650 juta itu belum diketahui penyebab pastinya apakah karena force majeure atau karena unsur lain.

Apalagi, jembatan tersebut diketahui baru dua bulan yang lalu diserahterimakan pekerjaannya. Namun, terjangan luapan air yang cukup besar disinyalir menjadikan jembatan baru itu ambruk.

Jika karena force majeure, nama CV Wahyu Sarana bisa jadi ikut terlibat. Karena, melihat hasil lelang melalui LPSE (lembaga pengadaan secara elektronik) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang tahun 2019 lalu, pagu dan harga perkiraan sendiri (HPS) ditawar dan dimenangkan dengan nilai Rp 486.914.496,08.

Sebelumnya, anggaran pembangunan Jembatan Krajan Dau dianggarkan senilai Rp 700 juta dengan HPS senilai Rp 699.990.386,23.

Ketika ditelusuri, CV Wahyu Sarana yang diinformasikan beralamat di Perumahan Muara Sarana Indah B-7 Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau tampak sepi. Lalu lalang aktivitas warga juga tidak begitu signifikan terlihat.

Terlihat dua kendaraan bermotor, kemudian beberapa perlengkapan rumah tangga. Bangunan rumah juga tak menunjukkan adanya kegiatan perkantoran. Tampak juga pasir yang mungkin akan digunakan untuk proses renovasi rumah.

MalangTIMES mencoba mencari informasi kepada tim keamanan setempat, alamat yang tersebut rupanya tidak diketahui sebagai sebuah kantor. Menurut Pitoyo, Satpam Perumahan Muara Sarana Indah selama ini lokasi tersebut ditempati salah seorang dosen di perguruan tinggi swasta.

"Kok setau saya nggak ada, apalagi dekat situ. Pasti orang-orang juga kenal. Seingat saya kalau bukan dosen ya guru SMA yang nempati sekarang," ujarnya saat ditemui di sela-sela tugasnya, Minggu (2/2).

Pria yang sudah kurang lebih selama enam tahun belakangan ini menjalani tugas sebagai satpam di wilayah tersebut bahkan ikut mencoba mengonfirmasikan CV Wahyu Sarana kepada pihak RW setempat. Namun, lagi-lagi nihil, nama itu tidak tercatat.

Menurut penjelasannya, RW setempat mengatakan jika rumah tersebut adalah kontrakan dengan kepemilikan atas nama Slamet. Namun, pemilik kontrakan tidak tinggal di wilayah tersebut. Terkait apakah penyewa kontrakan merupakan pemborong, juga tidak diketahui kejelasan pastinya.

"Ini sudah dijawab sama Pak RW, kontrakan itu milik Pak Slamet yang dihuni pengontrak. Tapi, yang mengontrak itu juga bukan pemborong," jelasnya.