Ilustrasi serangan bakteri Mycobacterium Tuberculosis. (Ist)
Ilustrasi serangan bakteri Mycobacterium Tuberculosis. (Ist)

Di tengah ramainya seluruh media dan masyarakat serta tentunya pemerintah di seluruh dunia terkait penyebaran virus corona hingga saat ini, ancaman cakaran maut bakteri Mycobacterium Tuberculosis semakin terkesan sunyi.

Bakteri yang menyerang bagian tubuh mana pun manusia ini, walau yang tersering dan paling umum adalah infeksi tuberkulosis pada paru-paru, tetap menjadi masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Tak terkecuali di Indonesia yang kini seluruh elemennya sedang berhadapan langsung dengan virus corona yang melahirkan kehebohan luar biasa.

Kehebohan ini pula yang juga menenggelamkan hari TBC sedunia yang jatuh tanggal 24 Maret kemarin. Sepi dan sunyi walau incaran cakar mautnya terus mengintai manusia. Yakni, setiap jam ada 11 jiwa yang terenggut oleh bakteri itu.

Sedangkan setiap tahun di Indonesia, kasus baru TBC mencapai 845 ribu dengan angka kematian mencapai 98 ribu. "TBC Indonesia urutan ketiga di dunia, setelah India dan China. Tapi memamalang untuk TB sunyi senyap," kata dr Erlina Burhan, spesialis paru RSUP Persahabatan Jakarta.

Sunyi senyapnya elmaut TBC ini pula yang sempat disayangkan oleh Erlina. Tak seheboh virus corona, bahkan menurut dr Ronald Irwanto, incaran maut dan kasus TBC di Indonesia tak membuat masyarakat takut, seperti yang terjadi saat ini dengan virus corona.

Hal itu, lanjut dia,  dimungkinkan karena virus corona merupakan penyakit baru yang hingga saat ini belum ada obatnya. "Jadi, mungkin karena itu. Selain cepatnya sebaran dan efek mematikannya yang cepat," ujarnya.

Padahal, dengan merebaknya virus corona, warga pengidap TBC menjadi golongan yang sangat rentan terpapar, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia mengatakan, pandemi virus corona atau covid-19 sangat rentan bagi pasien dengan kondisi paru-paru atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Seperti para penyandang TBC sebagai penyakit yang menyerang paru-paru.

Ini diperkuat juga dengan pernyataan dari Burkard Kömm, direktur jawatan bantuan humaniter Jerman untuk lepra dan tuberkolosa (DAHW), seperti dilansir kantor berita EPD. "Bagi jutaan orang yang mengidap TBC, wabah virus corona SARS-CoV-2 menjadi faktor bahaya yang sangat signifikan karena paru-paru dan daya tahan tubuh mereka telah dilemahkan oleh TBC," ucapnya.

Kondisi itu pula yang membuat Erlina beserta dokter lainnya pun tetap mengimbau masyarakat untuk mengikuti berbagai instruksi resmi pemerintah terkait corona. Yakni jntuk tetap di rumah dan menjaga pola hidup sehat. Sedangkan bagi para penyandang TBC, dirinya meminta untuk terus berobat hingga bisa sembuh total.

Disinggung terkait target eliminasi TBC oleh WHO tahun 2030, Erlina menegaskan bisa tercapai. "Bila seheboh covid-19, maka bisa. Tapi TBC ini sepi," tandasnya.