Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Kisah Rasulullah SAW dengan para sahabatnya tentu menjadi sangat menarik untuk disimak. 

Salah satunya adalah kisah sahabat Rasulullah yang tak bisa membaca dan menulis yaitu Zakaria bin Yahya.

Dikisahkan, Zakaria bin Yahya merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang memang tak banyak menyampaikan hadits seperti sahabat yang lain.

Salah satunya adalah dikarenakan Zakaria bin Yahya tak menguasai baca dan tulis.

Meski demikian, tak berarti Zakaria bin Yahya hilang dari sejarah. 

Sosoknya pun masih banyak dikisahkan hingga saat ini.

"Jadi ini Zakaria bin Yahya, sahabat Rasulullah SAW," kata Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah.

Dalam tausiahnya, Ustadz Khalid Basalamah menyampaikan, Rasulullah SAW dalam sebuah kesempatan pernah menaiki sebuah mimbar masjid dan menunjukkan kepada umat muslim para pemimpin yang munafik. 

Saat itu, Zakaria bin Yahya datang di antara para sahabat.

Saat itu, Rasulullah memanggil satu persatu nama pemimpin munafik hingga berjumlah 36 orang. 

Bukan hanya menyampaikan kabar tentang pemimpin munafik, saat itu Rasulullah SAW juga menyampaikan kabar gembira untuk umat muslim.

Rasulullah SAW saat itu menegaskan jika umat muslim akan selalu memenangkan peperangan dan jihad dalam Perang Tabuk. 

Hingga pada masa Khilafah Umar bin Khattab, pasukan muslim akan memenangkan peperangan di wilayah Hiro wilayah Jazirah Arab yang warganya memeluk nasrani.

"Rasulullah saat itu sampaikan, jika yang akan menyerah pertama adalah seorang perempuan yang menunggangi unta merah bercadar hitam. Dia adalah Syaimak binti Nufaila Al-usdila yang juga adik dari kepala suku," kata Ustadz Basalamah.

Mendengar ucapan Rasulullah SAW, Zakaria bin Yahya yang berada di Masjid itu langsung menyampaikan permintaan kepada Rasulullah agar Syaimak binti Nufaila Al-usdila dalam peperangan yang akan terjadi berikutnya itu bisa menjadi tawanannya. 

Rasulullah pun mengiyakan permintaan tersebut.

Hingga pada akhirnya, peperangan itu benar terjadi beberapa tahun setelah Rasulullah SAW wafat.

Ketika itu, benar saja ada seorang perempuan bercadar hitam dan menunggangi unta merah sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW telah menyerahkan diri.

"Saat itu Zakaria bin Yahya bilang, 'ini bagian saya'," terang Ustadz Basalamah.

Saat itu, para prajurit merasa bingung. Bahkan, Khalid bin Walid yang memimpin peperangan turut dibingungkan dengan ucapan Zakaria bin Yahya yang membawa nama Rasulullah SAW dan menjadikan Syaimak binti Nufaila Al-usdila sebagai tawanan.

Hingga akhirnya Khalid bin Walid pun mengumpulkan para sahabat dan saksi. 

Lantas dua sahabat membenarkan hak itu, karena memang hadir bersama dengan Zakaria bin Yahya saat Rasulullah SAW menyampaikan kisah tersebut sebelum wafat.

Tak lama, kakak dari Syaimak binti Nufaila Al-usdila yang juga kepala suku bernama Abdul Masih keluar dan membuat kesepakatan damai. 

Saat itu, Abdul Masih menanyai keberadaan sang adik, dan dijawab lah jika adiknya menjadi tawanan Zakaria bin Yahya.

Abdul Masih pun mendatangi Zakaria bin Yahya dan meminta agar adiknya dikembalikan. 

Abdul Masih saat itu menjanjikan akan membayar berapapun sesuai permintaan Zakaria bin Yahya. 

Saat itu, Zakaria bin Yahya menyampaikan dia akan mengembalikan adiknya dengan senilai 100 dirham.

"100 dirham ini kan kecil," tambah ustadz Basalamah.

Tak berfikir panjang, Abdul Masih langsung menyerahkan 100 Dirham kepada Zakaria bin Yahya.

Pasca kejadian itu, para prajurit mendatangi Zakaria dan menanyai mengapa Zakaria tak meminta lebih dari 100 dirham. 

Bahkan jika Zakaria meminta 100 ribu dirham pasti akan dikasih, karena Abdul Masih merupakan kepala suku yang kaya raya.

"Lantas Zakaria pun menjawab pertanyaan ara prajurit seperti ini, 'Apakah masih ada angka di atas 100?'. Sahabat Rasulullah SAW yaitu Zakaria bin Yahya ini memang sangat luar biasa polosnya," terang ustadz Basalamah.

(Link: https://youtu.be/mkB2bAN0XeQ)