Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Kebanyakan para pedagang selalu mencari keuntungan yang besar untuk keberlangsungan bisnisnya. 

Namun tidak dengan pedagang yang berasal dari Iraq ini. 

Baca Juga : Kisah Lucu Sahabat Rasulullah yang Menggauli Istrinya di Siang Hari Saat Ramadan

Pria bernama Muhammad bin Sirin atau lebih dikenal sebagai Ibnu Sirin itu malah menolak keuntungan senilai ratusan juta.

Tak hanya menolak keuntungan ratusan juta saja, Ibnu Sirin juga dikisahkan memilih berdebat untuk memperjuangkan uang yang hanya bernilai ribuan rupiah saja.

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian mengisahkan, Ibnu Sirin bukan hanya dikenal sebagai penafsir mimpi yang ulung. 

Namun, dia juga dikenal sebagai ulama sekaligus pedagang yang sangat jujur.

Ibnu Sirin memiliki sebuah lapak di salah satu pasar di Iraq. 

Lantaran kejujurannya, para pedagang yang berasal dari luar daerah selalu mencari keberadaan Ibnu Sirin. 

Mereka menawarkan barang dagangannya kepada Ibnu Sirin untuk kemudian dijual lagi kepada masyarakat sekitar.

Suatu ketika, Ibnu Sirin kedatangan seorang pedagang keju. 

Kebetulan dia merupakan non muslim. 

Saat itu, keju menjadi makanan pokok masyarakat. 

Pedagang menawarkan begitu banyak keju. 

Keuntungan yang bisa diambil oleh Ibnu Sirin pun mencapai 40 dirham atau jika saat ini bisa dikalkulasikan menjadi sekitar Rp 158 juta.

Saat mendapat tawaran itu, Ibnu Sirin tak langsung menerima. 

Melainkan dia memilih bertanya kepada pedagang itu, "Apakah halal kejumu itu," katanya.

Sang pedagang pun menyampaikan jika kejunya sama dengan keju kebanyakan selama ini. 

Ibnu Sirin kembali meminta agar pedagang itu bersumpah atas nama Allah SWT jika keju yang ia tawarkan itu halal. 

Jika pedagang itu berani menjamin, maka Ibnu Sirin akan membeli seluruh keju yang dibawanya tersebut.

Namun pada akhirnya, sang pedagang tak berani menjamin kehalalan dari keju yang ia bawa. 

Ibnu Sirin pun menolak membeli keju itu dan membiarkan pedagang pergi.

Keesokan harinya, Ibnu Sirin didatangi oleh seorang pembeli. 

Baca Juga : Demi Menjamu Tamu Rasulullah, Sahabat Ini Rela Biarkan Istri dan Bayinya Kelaparan

Bukan hanya sekadar berbelanja, sang pembeli juga mengobrol banyak dengan Ibnu Sirin. 

Ada banyak pertanyaan yang disampaikan dalam obrolan kala itu.

Lantaran saking asyiknya mengobrol, pembeli lupa membayar barang yang dibawanya. 

Barang yang dibawa pembeli itu kebetulan senilai 4 dirham, atau jika dikalkulasikan saat ini bernilai sekitar Rp 15 ribuan saja.

Ibnu Sirin pun menyampaikan kepada pembeli tersebut, jika pembeli itu belum membayar barang yang dibawanya. 

Namun sang pembeli menolak itu dan dengan kukuh menyampaikan jika ia telah membayarnya.

Kemudian terjadi perselisihan hebat di antara keduanya. 

Baik Ibnu Sirin maupun pembeli bersumpah atas nama Allah. 

Perselisihan keduanya pun membuat pedagang dan pengunjung pasar mendatangi mereka.

Sampai pada akhirnya, pembeli itu membayarkan empat dirham sebagaimana yang disampaikan Ibnu Sirin. 

Para pedagang dan pembeli di pasar yang berkerumun di area toko Ibnu Sirin pun dengan heran bertanya kepada Ibnu Sirin.

"Wahai Ibnu Sirin, kemarin Anda menolak 40 dirham karena subhat (diragukan halal haramnya). Sekarang anda bersumpah atas nama Allah untuk empat dirham. Apa yang sebenarnya terjadi, kami tak habis pikir," kata pengunjung pasar.

"Saya akan bersumpah atas nama Allah atas 4 dirham itu karena aku tahu dia belum membayar. Dan Allah akan menghukum saya karena saya tahu dia belum bayar. Serta dia juga akan dihukum karena belum bayar," tegas Ibnu Sirin.

Itu adalah contoh kejujuran Ibnu Sirin dalam berdagang. 

Selama ini, Ibnu Sirin tak hanya mengutamakan keuntungan atas dagangan yang ia perjualbelikan. 

Melainkan, juga mengutamakan kehalalan atas setiap barang yang ia perdagangkan.