Wali Kota Malang Sutiaji (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).

Juli mendatang, Kota Malang akan menjadi tempat pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) penerimaan mahasiswa baru.

Setidaknya ada sekitar 30 ribu mahasiswa yang diprediksi memasuki kota pendidikan ini untuk mengikuti tes UTBK jalur SBMPTN.

Baca Juga : Launching Pasar Tangguh, Wali Kota Santoso Dorong Angka Penyebaran Covid-19 Terus Turun

Namun lantaran pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Malang mengusulkan agar proses ujian bisa dilaksanakan secara daring.

Sehingga, mampu meminimalkan risiko penularan ataupun adanya kemungkinan kemunculan kluster baru.

Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang akan berkirim surat kepada Panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi dan mengusulkan agar tes bisa dilaksanakan secara daring.

Rencananya, surat akan dikirim pada Jumat (26/6/2020) besok.

"Karena ini bukan domain kami, tapi kami akan berkirim surat untuk mengusulkan agar proses ujian dilaksanakan secara daring," katanya usai menggelar Rakor bersama Forkopimda dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Kamis (25/6/2020) sore.

Sutiaji menyampaikan, dalam informasi awal, pelaksanaan UTBK di Kota Malang hanya akan dilaksanakan untuk calon mahasiswa yang berasal dari Malang Raya.

Namun belakangan diketahui, peserta ujian juga berasal dari berbagai wilayah di Jawa Timur dan beberapa daerah di Indonesia.

"Karena pesertanya bukan hanya dari Malang Raya, maka kami minta panitia pelaksana untuk melakukan kajian ulang," jelas pria yang akrab disapa Pak Aji itu.

Menurutnya ada beberapa pertimbangan yang membuat Pemkot Malang beserta Gugus Tugas Covid-19 meminta agar pelaksanaan tes dilaksanakan secara daring.

Hal ini berkaitan dengan penyebaran kasus Covid-19, mengingat saat ini Kota Malang memang masih dalam zona merah.

Saat ini, beberapa upaya untuk menekan angka kasus positif Covid-19 juga terus dilakukan termasuk dalam menekan risiko persebaran baru.

"Karena ini kondisinya memang kenormalan baru, bukan masa normal seperti saat sebelum ada pandemi," jelasnya.

Lebih jauh pria berkacamata itu menyampaikan, Pemkot Malang akan membuat beberapa skema baru apabila usulan pelaksanaan ujian secara daring tak diterima.

Dia menegaskan agar semua kegiatan dilaksanakan sesuai protokol kesehatan.

"Kita kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Jika seandainya tak bisa daring, maka mau tak mau harus dijalankan. Tapi protokol harus dipastikan," imbuhnya.

Sutiaji menekankan, nasib peserta UTBK yang berada di luar kota menjadi salah satu perhatian utama.

Sebab, jika dilangsungkan di wilayah perguruan tinggi dikhawatirkan akan menyebabkan persebaran kluster baru kasus Covid-19.

Untuk Kota Malang, kampus yang akan menjalankan UTBK yaitu Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang.

Dalam hal ini kesiapan dalam menyambut para calon mahasiswa baru (camaba), Pemkot Malang meminta ada pemberlakuan penerapan protokol pencegahan Covid-19 secara lebih ketat.

Baca Juga : Sekolah Siap Dibuka, Pemkab Blitar Gelar Webinar Pendidikan

Sutiaji menyatakan jika memang UTBK harus dilakukan secara tatap muka, maka masing-masing rektor diharapkan hanya mengutamakan wilayah Malang Raya saja. 

"Harapannya, yang luar Malang Raya ikut di domisili terkait saja," ujarnya.

Kemudian beberapa hal harus diperhatikan di area kampus yang membuka pelaksanaan seleksi UTBK.

Di antaranya sterilisasi area kampus, hingga jam masuk bagi peserta tes yang harus dibatasi karena bukan tidak mungkin penumpukan massa akan tetap terjadi.

Karena dari pengalaman tes seleksi di tahun-tahun sebelumnya, setiap calon maba akan melakukan survei lokasi sehari sebelumnya.

"Sterilisasi di dalam dan di luar, baik sebelum, ketika dan pasca pelaksanaan tes, ini harus. Kemudian, masuknya tidak pagi agak siang jam 9, harapannya sebelumnya dia bisa melihat tempat itu dulu," paparnya.

Sebelumnya, para camaba biasa melihat lokasi tes sehari sebelum pelaksanaan ujian.

"Maka ini tidak diperkenankan ngecek lokasi, ada petunjuknya di sana nanti. Apalagi anak-anak muda bertemu dengan teman dan lainnya," jelasnya.

Selanjutnya, yang tak boleh disepelekan lagi di wilayah area kampus juga harus steril dari pedagang kaki lima (PKL).

Mengingat, pedagang biasanya akan bergerombol di sekitar area universitas saat proses seleksi berlangsung.

"Saya minta betul-betul diperhatikan, meskipun kampusnya besar pasti nanti terjadi kerumunan. Tolong tidak ada PKL di area kampus, tolong disterilisasi. Ini tanggung jawab masing-masing satgas," imbuhnya.

Kemudian, terkait pembagian pelaksanaan tes untuk melibatkan universitas lainnya di Kota Malang diharapkan dilakukan oleh kedua perguruan tinggi tersebut.

Hal ini dirasa untuk memaksimalkan physical distancing karena bisa memecah konsentrasi massa.

"UM sudah dibagi ke 3 kampus lainnya, untuk membagi titik kerumunan agar terpecah maka physical distancing bisa dimaksimalkan. Tapi koordinasi harus terus dilakukan bersama masing-masing rektor, ada UMM, Unmer, Unisma, UIN dan lainnya. Nanti SK UTBK akan disusun bersama tim ahli, dan haris berkoordinasi dengan camat dan puskesmas terkait," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pelaksanaan UTBK jalur SBMPTN itu akan dilaksanakan dalam tiga gelombang.

Gelombang pertama akan dilaksanakan pada 5 Juli sampai 12 Juli 2020. Tahap dua dilaksanakan pada 20 Juli sampai 29 Juli 2020, dan cadangan berlangsung 29 Juli sampai 2 Agustus 2020.